2011/08/08

More Nursery Room, Please...

Sudah beberapa tahun terakhir ini Indonesia dan juga negara2 lain di dunia ini sedang gencar2nya menghimbau para ibu2 yang mempunyai bayi untuk memberikan ASI eksklusif selama 6 bulan. Teman2 pasti sudah tahu lah manfaat ASI memang sangat banyak. Selain itu juga bisa menghemat biaya untuk membeli susu formula yang bisa dibilang lumayan mahal. Sayangnya di Indonesia pencanangan ASI eksklusif kurang didukung oleh fasilitas2 pendukung untuk menyusui saat kita jalan2 di mall atau sejenisnya, gak heran akhirnya banyak juga ibu2 yang kalau sedang jalan2 ya sudah kasih saja anaknya susu botol karena sulit menemukan tempat menyusui yang layak dan nyaman. 

Hal yang hampir sama saya alami pas saya di Belanda. Kalau boleh saya katakan, di Belanda fasilitas untuk mengganti popok dan menyusui gak banyak. Paling2 ada di satu toko yang menjual perlengkapan ibu dan bayi yang namanya Prenatal, tapi di mall besarnya seperti De Bijenkorf atau V&D tidak ada fasilitas ganti popok & menyusui. Berbeda sekali dengan di Jepang sini yang dimana2 dilengkapi fasilitas ganti popok dan menyusui. Di kamar mandi stasiun kereta saja ada tempat ganti popok, walapun gak ada tempat menyusui sih. Tapi enaknya di Jepang itu biasanya mall itu nyambung jadi satu dengan stasiun kereta, jadi ada jalan tembus langsung ke mall atau bahkan pintu masuk mallnya itu dekat sekali dengan pintu keluar/masuk stasiun kereta. Jadi kalau perlu menyusui tinggal masuk mall saja disana pasti ada tempat menyusui. 

Pertama kali masuk nursery room di Jepang saya kagum sekali karena nursery roomnya besar2, lega dan nyaman sekali, mungkin luasnya seluas satu blok toko di dalam mall. Suami kita juga boleh masuk loh. Pas masuk nursery room biasanya tersedia setidaknya 4 atau 5 meja ganti popok, bahkan kalau kita ke mall yang lebih besar dan bagus bisa ada 8 meja ganti popok. Masih di ruangan yang sama tapi agak sedikit terpisah dari tempat ganti popok, ada ruang2 menyusui, setidaknya ada 2 ruang menyusui, tapi kalau nursery roomnya lebih besar bisa ada 4 atau 5 ruang menyusui yang dilengkapi dengan tirai sebagai penutup. Selain itu di nursery room ada sofa atau kursi untuk tempat kita santai2 dulu, ada kursi makan bayi kalau seandainya kita mau kasih makan anak kita, ada dispenser air panas, ada wastafel, bahkan terkadang ada microwave untuk menghangatkan makanan. Makanya selama kita di Jepang ini kita sering sekali traveling keliling Jepang karena kita tahu bahwa fasilitas pendukung untuk ibu2 seperti saya lengkap dan nyaman, jadi kita gak pernah khawatir saat jalan2. Bahkan tempat ganti popok juga tersedia di WC laki2. Kalau kita malas antri lama di WC perempuan, biasanya suami saya aja yang gantiin popok di WC laki2.
tempat ganti popok di Edo Wonderland, Nikko, tradisional sekali... :)

Kalau pas di Belanda, saat kita harus jalan naik kereta kita bingung deh tuh ganti popok dimana ya, karena di stasiun kereta aja belum tentu ada kamar mandinya. Mau ke Prenatal pasti harus jalan jauh dulu, yang ada akhirnya gantiin popok di dalam kereta bayi dan sambil mojok di sebuah resto. Buat menyusui juga tambah bingung deh mau menyusui dimana, walaupun kita punya nursing apron tapi kita pasti gak luput dari pandangan orang2 karena di negara2 Eropa gak wajar kalau kita menyusui di depan umum. Akhirnya mau gak mau kita membawa persediaan ASI yang sudah saya peras & simpan di freezer. Tapi terus kalau ASI kita penuh dan sampai luber gimana?? Nah itu dia, saya pernah mengalami itu. Waktu itu kita perlu pergi ke KBRI di Den Haag untuk membuat paspor Mye. Pas kita sampai di stasiun Den Haag saya perlu ganti popok Mye, akhirnya kita mojok di Burger King untuk ganti popok. Setelah itu pas di KBRI, ASI saya sudah sangat penuh dan luber, akhirnya saya diberitahu oleh orang yang berada di KBRI ada ruang tertutup dimana saya bisa menyusui. Akhirnya saya bisa menyusui Mye disana dan bahkan saya tetep harus memompa ASI saya secara manual karena masih kepenuhan. Duh betapa repotnya kalau kita sebagai ibu yang sedang menyusui dan sedang traveling kita gak didukung oleh fasilitas ganti popok dan menyusui yang layak.

Di Indonesia kita juga gak banyak traveling. Selain karena waktu kita waktu itu sangat terbatas, kita juga merasa masih kurang nyaman traveling dengan bayi. Yang pasti sih kita sering banget ke mall, apalagi Mall Kelapa Gading (MKG), soalnya tinggal nyebrang jalan sampe deh. Hehehe... Sayangnya di mall itu kurang tersedia fasilitas menyusui yang layak dan nyaman. Ruang menyusui dan ganti popoknya kecil dan sempit, hanya muat untuk satu orang untuk ganti popok. Makanya kita suka harus antri lama. Pastinya kita jadi tidak bisa menyusui lama2 disana karena pasti ada orang lain antri. Saya pernah menyusui di ruang itu eh orang yang lagi antri ngomel2. Ya wajar aja lah kalau saya lama, kita kan butuh 15-20 menit untuk menyusui!!! Kalau memang tidak mau antri ya cari lagi aja nursery room yang ada di lantai lain. Tapi sayangnya memang cuma ada 2 nursery room disana, di lantai yang berbeda & dua2nya kecil. 

Berbeda dengan mall lainnya, misalnya seperti di PIM 2 atau di MOI, nursery roomnya lumayan besar, ada banyak meja ganti popok dan ada lagi ruang menyusui yang terpisah kira2 untuk 2 orang. Meja ganti popoknya buat saya sih terlalu dempet2, ya mungkin karena nursery roomnya sendiri kurang luas jadi kita seperti berdesak2an di dalam. Kalau di PIM 1, sofa untuk menyusuinya panjang dan luas tapi sayangnya tempatnya terbuka begitu saja, jadi kita juga bisa melihat ibu2 lain menyusui, jadi kurang private, meja ganti popoknya juga cuma ada satu. Kurang bagusnya lagi tiba2 suka ada OB yang  masuk untuk ambil air dari dispenser di dalam nursery room, sukur2 sih bukan cowo, coba kalau tiba2 OB cowo yang masuk, nah keliatan kan tuh kita yang lagi menyusui.

Sejauh ini sih menurut saya di Jepang inilah yang memiliki fasilitas pendukung bagi Busui terlengkap. Di dalam WC juga tersedia dudukan untuk bayi/balita, jadi kalau kita hanya jalan berdua dengan bayi/balita kita dan perlu ke WC kita gak perlu repot2 karena mereka bisa ikut masuk ke WC dengan kita tapi bisa duduk dengan aman tanpa menggangu kita saat di dalam WC. 

Satu kelemahan saat traveling di Jepang adalah kita tidak bisa membawa stroller ke dalam bis. Sebenarnya tidak dilarang untuk membawa stroller dalam bis, tapi pengaturan tempat duduk dalam bisnya kurang friendly untuk ibu2 yang membawa stroller, jadi kalau kita tidak melipat stroller kita saat masuk bis, yang ada kita jadi menghalangi jalan orang. Sedangkan kalau di Belanda pengaturan tempat duduk dalam bisnya friendly untuk ibu2 yang membawa stroller jadi ada tempat untuk stroller tanpa mengganggu jalan orang. Kita bisa minta masuk dari pintu belakang bis untuk mempermudah masuknya stroller. Jadi kita taro stroller dulu, jangan lupa di rem dulu ya.. :D  lalu baru ke  supir bis untuk membayar bis. Sayangnya kalau di Jepang bayar bis kalau kita mau turun jadi emang rada ribet deh tuh.  Anyway, gak di Belanda gak di Jepang kalau bis penuh mah tetep aja ya pasti sempit dimana2 dan jadi riweh deh tuh ama stroller. Hehehe...


2011/07/29

Pas Lagi Menikmati Secangkir Cappucino, tiba-tiba....

Seperti hari weekend biasanya, kita suka makan siang diluar. Salah satu restaurant favorit kita namanya Saizeriya, sejenis restaurant Itali. Makanannya lumayan enak2, untuk appetizer kita sering pesen escargot yang di panggang dengan jamur, garlic, basil & olive oil. Rasanya maknyuuusss enak banget. Appetizer kesukaan kita lainnya adalah udang goreng tepung dengan saus mayonaise dan kerang panggang dengan herbs. Kalau makanan utama kita sih paling seneng pesen steak. Harga makanan di resto ini murah2, makanya gak heran kalau resto ini sering disambangi anak2 sekolahan di jam2 pulang sekolah. Suasana family resto ini emang nice and friendly, pelayanan cepat & yang paling enak bisa ambil minum sepuasnya... hahahaha... 

Tapi kamis kemarin agak berbeda pengalamannya. Sebenernya kita udah selesai makan, tinggal menunggu Mye yang belum selesai makan dan sambil menunggu saya menikmati secangkir cappucino dan suami saya kopi biasa. Di meja sebelah kita duduk sepasang kakek2 dengan nenek2, yah sebenernya belum nenek2 banget sih sang istri. Tapi sang suami itu sudah berjalan dengan tongkat dan emang terlihat kurang fit. Terlihat mereka memesan salad dan corn soup untuk appetizer, kemudian sang kakek, untuk main course, memesan cut steak, sedangkan sang nenek memesan pasta dengan saus beschiamela, salmon & bayam. Cut steak itu salah satu favorit saya juga, dagingnya tanpa lemak dan dagingnya sudah di potong2 dadu kira2 ukurannya 3x3x3. Tentu saja karena mengandung sedikit lemak, dagingnya agak sedikit lebih keras, tapi saya sih gak masalah.

Tiba2 saat sang kakek sedang menikmati cut steak-nya eh dia tersedak!! Awalnya sih tidak terlalu mengkhawatirkan, sang istri mencoba mengelus2 dada suaminya dan berusaha agar si suami bisa mengeluarkan bagian daging yang tersedak itu. Tapi ternyata tiba2 sang kakek memburuk dan akhirnya terbaring di sofa tempat dia sedang duduk. Ya ampun!! Ini udah kaya di film2 aja nih scene-nya. Lalu sang nenek meninggalkan sang kakek untuk menghubungi manager in charge restaurant untuk meminta pertolongan. Saat itu saya dan suami tidak bisa tinggal diam, kita samperin sang kakek. Suami saya mencoba menepuk2 punggung sang kakek untuk membantu mengeluarkan daging yang tersedak, harusnya sih dadanya di tekan dengan tangan kita, seperti yang suka ada di film2, tapi suami saya gak berani, takut2 nanti malah salah. Saya cuma mencoba melepaskan kacamatanya yang sepertinya udah hampir menusuk matanya. Pas saya dan suami saya samperin sang kakek, mukanya udah biru!!! Ya ampuuuunnn!!! Kita disitu lumayan panik. Saya dalam hati bilang "Oh my god, oh my god!! Jangan mati disini pak!! Jangan mati disini pak!!" Pandangan si kakek juga udah ke arah ntah kemana, benar2 udah kaya mau mati!! Lalu sang nenek gak lama balik lagi menghampiri sang kakek dan kita akhirnya menyingkir dari sana, karena kita pikir pasti dia yang lebih tau harus apa. Saya juga lihat di lengan sang kakek ada tensoplast bekas diambil darah. Rupanya sang kakek juga baru dari rumah sakit untuk ambil darah. Manager restaurant mencoba menghampiri mereka dan dia terlihat menghubungi ambulance. Tapi sang manager restaurant, seperti halnya kami, gak berani melakukan tindakan penyelamatan lebih lanjut karena takut salah juga.

Untung sang kakek sepertinya bisa mengeluarkan potongan daging yang tersedak dan mencoba mengunyahnya. Sedikit demi sedikit sang kakek berangsur2 baik dan bisa bernapas lebih baik dan bisa duduk kembali. Fiiiiuuuhhh legaaaa banget pas liat dia udah bisa duduk lagi. Sang nenek juga sampe menghela nafas lega dan akhirnya bisa tersenyum lagi. Tidak lama kemudian ambulans datang, tapi karena sang kakek sudah tidak apa2, petugas ambulans hanya memeriksa dia apakah benar2 tidak apa2 dan mereka disuruh tanda tangan surat pernyataan atau sejenisnya. Mungkin untuk laporan mereka. 

Yang heran itu koq kayanya orang2 di resto yang duduk di sekitar sang kakek cuek2 aja ya ngeliat ada orang yang lagi butuh pertolongan. Malah beberapa anak muda yang duduk persis disebelah si kakek cuma ngeliatin aja dengan pandangan jijik. Selain kita yang berusaha samperin sang kakek ada bapak2 yang juga mencoba samperin. Entah mereka itu emang bener2 gak peduli atau gak mau ikut ribet atau emang bener2 jijik ngeliatnya. Saya cuma mikir kalau saya dalam keadaan yang sama dengan sang nenek, saya juga mungkin berharap ada yang bisa membantu saya walaupun hanya sekedar samperin dan nungguin sebentar sementara saya meminta pertolongan. Rasanya tadi saya gregetan banget, tapi gimana ya kita gak bisa bahasa Jepang jadi gak bisa komunikasi. Kita gak ngerti cara melakukan pertolongan pertama, kalau nekad takut2 salah. Tapi ngeliat sang kakek mukanya biru itu kita bener2 panik.

Setelah semua kepanikan lewat, saya sama suami mencoba menganalisa kejadian si kakek. Rupanya si kakek kan baru dari ambil darah di rumah sakit, mungkin istrinya mau treat suaminya untuk makan enak hari itu, tapi sepertinya si kakek salah pilih menu. Seperti saya bilang, cut steak yang di pesan sang kakek memang agak keras dagingnya, si kakek pun terlihat sedang kurang fit dan saya lihat si kakek rada ompong giginya. Gak heran mungkin dia kesulitan mengunyah dagingnya. Suami saya dari awal katanya sudah memperhatikan menu yang dipilih sang kakek, dia dalam hati udah berpikir "koq terlihat lagi gak fit, udah kakek2, tapi pilih cut steak, aduh jangan sampe kenapa2 aja". Eh koq tau2 beneran kejadian.

Gak lama dari setelah si kakek bener pulih, mereka langsung pulang. Mereka bahkan tidak menghabiskan makanan mereka yang baru disentuh 2 atau 3 suap, mungkin sudah males kali ya. Sang istri pas mau keluar sampai bilang maaf dan terima kasih ke kita dan orang2 yang duduk disekitar mereka sambil membungkukkan badan seperti biasanya orang2 Jepang lakukan. Tapi melihat pasangan itu, saya salut sekali karena udah tua tapi masih saling menghargai, melindungi, menyayangi. Mungkin bisa jadi inspirasi buat saya dan suami. Hehehe... Dan satu lagi, kayanya perlu juga nih bener2 mempelajari mendalam tentang tindakan pertolongan pertama supaya lain kali kalau nemu kasus kaya gitu lagi setidaknya bisa membantu biarpun sedikit.

2011/07/27

Cek Kesehatan Balita 1,5 Tahun di Jepang

Tanggal 20 Juli lalu saya membawa anak saya ke Pusat Ibu dan Anak untuk pemeriksaan kesehatan balita usia 1,5 tahun. Dalam bahasa Jepang sih "Pusat Ibu dan Anak" ini disebutnya Hoken Center, kurang tahu translate tepatnya apa, tapi saya mengartikannya sejenis "Pusat Ibu & Anak". Sekitar 2 bulan sebelumnya, saya menerima surat dari Hoken Center atas nama anak saya. Wah saya bingung koq tumben anak saya yang dapat surat ya, tapi pas saya baca, biarpun gak ngerti bahasa Jepang, tapi saya bisa baca tulisan "1,5 Tahun"-nya dan saya nebak pasti ini panggilan untuk cek kesehatan. Saya sudah tau kalau bakal ada pemeriksaan saat usia 1,5 tahun dari dokter anak yang saya kunjungi saat Mye usia 10 bulan & 1 tahun. 

Dalam surat tersebut ada surat pengantar dan satu lagi adalah lembaran yang besar yang sepertinya adalah kuisioner yang harus saya isi. Karena semuanya dalam bahasa Jepang, terpaksalah saya mendatangi tetangga saya untuk translate semuanya. Dalam surat pengantar ditulis untuk, misalnya, anak yang lahir dari tanggal 10-29 desember datang pada tanggal 20 juli 2011, untuk anak yang lahir di tanggal2 lain juga disebutkan harus datang tanggal berapa. Kuisionernya berisi pertanyaan seputar keadaaan anak, misalnya apakah sudah bisa berjalan dengan lancar, apakah sudah bisa bicara, apa permainan kesukaannya, dsb. 

Sebelum pergi ke Hoken Center, saya juga bertanya ke Kasumi, teman saya yang punya anak berusia 1,5 tahun juga apakah dia akan atau sudah membawa anaknya ke Hoken Center. Ternyata dia bilang kalau pada tanggal yang seharusnya dia datang, dia tidak bisa karena ada urusan dengan sekolah anaknya yang satu lagi yang berusia 10 tahun. Jadi Kasumi mungkin akan datang di hari lain. Dari situ saya tahu kalau ternyata jika tidak bisa datang di hari yang ditentukan kita boleh datang di hari lain. 

Kebetulan sekali tanggal 20 Juli suami saya masih libur summer jadi dia bisa menemani saya membawa Mye ke Hoken Center. Wow, ternyata Hoken Center heboh sekali! Hahahaha.. persis seperti Posyandu kalau lagi ramai. Anak2 teriak2, nangis2, ada yang lari2 kesana kemari, termasuk Mye yang tidak bisa diam jalan2 kemana2. Hahaha... 

Saat giliran Mye tiba, pertama kita ditanya2 oleh Perawat (sepertinya sih mereka perawat, bukan dokter) tentang keadaan sang anak, kurang lebih mereka mau menegaskan hal2 yang sudah ditanyakan di kuisioner. Tentu saja mereka menanyakan hal2 tersebut dalam bahasa jepang dan saya hanya mengerti sangat amat sedikit dan bisa menjawab dengan sangat amat terbatas. Rasanya ingin tertawa sekaligus ingin cepat2 selesai saking bingungnya. Salah satu pertanyaan yang bisa saya jawab adalah berapa banyak Mye minum susu sehari, dan saya untungnya bisa jawab 500 cc dengan benar.. Hahahaha... 

Setelah tanya jawab, Mye ditimbang & diukur tingginya, sekarang berat Mye 12,5 kg dan tinggi 83,7cm. Setelah itu Mye diperiksa secara fisik oleh dokter. Untung Mye gak nangis pas diperiksa dokter, mungkin karena dapat dokter perempuan, malah sang dokter diberi kiss bye sama Mye pas sudah selesai pemeriksaannya. Hahahaha... Setelah bertemu dokter, saatnya periksa gigi. Alhamdulillah katanya gigi Mye bagus dan bersih. Iya donk, siapa dulu bunda-nya yang rajin sikatin gigi Mye.. Hehehehe... Tapi katanya gigi Mye agak rapat2 jadi harus dibersihkan dengan dental floss seminggu 1 atau 2 kali. 

Setelah bertemu dokter gigi, kita disuruh ke ruangan ketiga yang sepertinya itu berisi konseling tentang makanan balita. Saat di dalam ruang konseling, sang perawat mencoba menjelaskan kalau Mye itu dari berat badan diatas garis grafik tertinggi anak2 jepang, tingginya juga berada pada garis teratas grafik. Disitu perawat lalu mengatakan kalau Mye bertubuh besar & ditakutkan jadi obesitas. Hmmm.. itu perawat gak lihat apa ya emak babe Mye segede2 babon gini?? Hahahaha... Lalu perawat mengatakan kalau dalam sehari Mye hanya boleh minum susu 200cc saja. Dari sini saya tidak bisa terima karena saya melihat anak2 teman saya yang di Indonesia ataupun di Belanda perasaan umur segini masih minum susu kira2 500cc, bahkan beberapa hari sebelum saya ke Hoken Center saya berbicara dengan kakak saya dan anak kakak saya yang berusia 2,5 tahun masih minum susu kira2 500cc sehari. Toh Mye biarpun minum susu 500cc sehari makanan padat tetap masuk, juga buah2an.
grafik pertumbuhan bayi/balita Jepang
Anak2 balita Jepang saya lihat memang kecil2 badannya. Misalnya Toshiki, anaknya Kasumi, dia sebulan lebih tua dari Mye tapi dari tinggi badan & berat badan lebih kecil dari Mye. Saya juga pernah melihat balita yang lebih tua dari Mye, kira2 sudah 2 tahun lebih badannya malah sama dengan Mye. Jadi menurut saya, harusnya sih Mye tidak bisa disamakan dengan anak2 Jepang lainnya. Lagipula Mye tidak memiliki gen orang Jepang yang membuat dia juga berbeda dengan anak2 Jepang. Sama halnya Mye tidak memiliki gen orang Belanda, jadi Mye juga tidak bisa disamakan dengan balita Belanda lainnya. Pas Mye bayi, dia badannya lebih kecil dari rata2 bayi Belanda, perawat di Belanda pun tidak bisa langsung judge bahwa Mye kecil karena Mye adalah balita Asia dimana memiliki gen yang berbeda dengan balita2 Eropa.
grafik pertumbuhan bayi/balita Belanda
Makanya saya jadi tidak terima saat Mye dibilang badannya terlalu besar saat dibandingkan dengan grafik pertumbuhan balita Jepang. Lalu saya mencoba menjelaskan dalam bahasa Jepang kalau yang mereka gunakan adalah grafik pertumbuhan balita untuk anak Jepang, sedangkan Mye bukan anak Jepang dan berdasarkan grafik pertumbuhan balita Belanda (karena Mye lahir di Belanda & saya memiliki buku pertumbuhan balita Belanda) Mye berada pada batas normal, sedikit diatas rata2 tapi masih dibawah garis grafik tertinggi. Sayapun menunjukkan grafik tersebut. Kalau saat itu perawat meminta grafik balita Indonesia pun saya bisa menunjukkannya karena saya punya dan saya bisa buktikan Mye masih di garis normal grafik balita Indonesia. Tapi setelah saya tunjukkan grafik pertumbuhan balita Belanda dan perawat melihat kalau Mye masih dalam garis normal, akhirnya dia bilang (kira2 nih) "oh kalau gitu tidak apa2, tidak ada yang perlu dikawatirkan, konselingnya sudah selesai, anda boleh pulang sekarang". Hahahahahahahaha.. saya pengen ngakak tapi gimanaaa...Hihihi... Akhirnya kita cuma bilang terima kasih dan bergegas keluar. 
grafik pertumbuhan bayi/balita Indonesia
Disini saya tampilkan grafik pertumbuhan bayi/balita dari Indonesia, Jepang dan Belanda. Dari grafik2 diatas terlihat kalau rata2 berat badan dan tinggi badan bayi/balita Jepang memang dibawah rata2 bayi/balita di Indonesia & Belanda. Di Indonesia dan Belanda rata2 berat balita umur 1,5 tahun adalah 11 kg, sedangkan di Jepang adalah 10 kg, lumayan ya bedanya 1kg, gak heran kalau Mye dibilangnya "terlalu besar". Saya bukan dokter atau perawat, tapi menurut saya kalau mau melihat pertumbuhan balita saat kita berada di negara lain dari negara asal kita, rasanya kita patut mempertimbangkan dari segi ras, gen, dsb karena pasti tiap negara pertumbuhan rata2 balitanya berbeda2. 

2011/07/05

My Experience Having a Baby in The Netherlands: Part 5. Pasca Melahirkan

Selain ada kraamzorg selama 8 hari hari pertama setelah melahirkan, kita juga ada kunjungan dari bidan, dokter keluarga & consultative bureau. Bidan datang untuk mengunjungi kami setiap 2 hari selama 10 hari pertama setelah melahirkan. Bidan mengecek bayi dan mengecek saya. Di kunjungan terakhir bidan ke rumah saya mereka menanyakan apakah saya puas dengan kinerja bidan, tentu saja saya jawab sangat puas sekali. Lalu saya juga menjelaskan kalau saya memang ingin mengalami pengalaman hamil dan melahirkan yang berbeda dengan di Indonesia, dan karena saya lulusan Fak. Kesehatan Masyarakat saya ingin mempelajari bagaimana melahirkan di Belanda dibandingkan dengan pengalaman teman2 melahirkan di Indonesia. Bidanpun akhirnya bilang kalau saya sebenernya melakukan “a little research” tentang hamil & melahirkan di Belanda.. hahahaha… 

Selain kunjungan bidan kita juga dikunjungi oleh dokter keluarga, kebetulan dokter dari klinik kampus dan dokter yang sama yang memeriksa saya saat saya sakit pas hamil 8 bulan. Kemudian ada juga kunjungan dari dokter dari Consultatie Bureau (Posyandu) untuk memeriksa bayi dan saya dan juga memberikan panduan imunisasi, panduan bagaimana membuat kunjungan ke CB, dsb.  Sedikit berbeda dengan di Indonesia, di Belanda imunisasi pertama dilakukan setelah bayi berusia 2 bulan. Imunisasinya yaitu Diphteri, Tetanus, Polio, Whooping Cough, Hep B, HiB dan Pneumokokus. Semuanya gratis dari pemerintah. Tidak seperti di Indonesia, vaksin HiB dan Pneumokokus masih bersifat "dianjurkan" sedangkan di Belanda sudah wajib. Sedangkan kalau di Indonesia bayi harus di vaksin BCG tapi di Belanda tidak. Makanya pas waktu Mye baru pulang ke Indonesia dan periksa ke dokter langsung di vaksin BCG. Saya juga sangat kaget dengan harga imunisasi di Indonesia yang sangat mahal, terutama untuk yang dianjurkan seperti HiB dan Pneu, tapi karena baby Mye sudah menerima vaksin tersebut sebelumnya ya dilanjutkan saja supaya tidak mubazir. Mungkin tips juga buat teman2 yang punya bayi di luar negeri dan akan membawa bayinya pulang ke Indonesia, saat vaksinasi di luar negeri, coba tanyakan jenis/nama vaksin apa yang diberikan atau bisa juga minta kertas yang berisi keterangan vaksinnya (kertasnya seperti petunjuk penggunaan obat kalau kita beli obat2an biasa) supaya nanti bisa ditunjukkan dan dikonsultasikan ke dokter yang ada di Indonesia. Hal itu juga yang saya lakukan sehingga di Indonesia tidak ada simpang siur tentang pemberian vaksin apa saja yang sudah dilakukan sebelumnya.

Mungkin seperti ada beberapa wanita lain yang habis melahirkan ada yang terkena namanya baby blue syndrome. Wah ternyata saya terkena baby blue syndrome. Saya mulai sadar kalau saya terkena baby blue karena saya sering merasa sedih, hampa, kesepian dan nangis. Bahkan saat Ria meninggalkan saya aja rasanya sedih sekali gak karuan. Mungkin juga saya merasa kesepian dan hampa karena tidak ada orangtua saya, terutama ibu saya, yang mendampingi dan membantu saya. Semua harus saya lakukan sendiri dan mencari tau sendiri. Walaupun sebenernya dari awal kehamilan itulah yang saya mau dan saya cari, karena disitulah adventurenya. Tapi bahkan disaat saya menggendong baby Mye dan menyusui baby Mye saya menangis, bukan karena tidak senang tapi ntah kenapa saya juga gak ngerti. Setelah sadar saya mengalami hal aneh lalu saya coba berbicara dengan suami, dalam hal ini saya hanya bisa bicara kepada suami saya karena dia lah yang paling dekat saat itu dan Alhamdulillah suami saya bisa membuat saya lebih tenang. Jadi buat teman2 yang mungkin mengalami baby blue syndrome pasca melahirkan, sadarilah sedini mungkin kalau merasa terkena baby blue syndrome dan jangan ragu buat curhat ke suami, atau ibu atau mungkin tenaga profesional supaya hal tersebut gak berlarut2 dan bisa ceria kembali. :)

Perjuangan melakukan semua sendirian tidak berakhir dengan saya dan suami yang merawat bayi. Tapi dua minggu setelah saya melahirkan saya bahkan ditinggalkan suami ke Amerika Serikat untuk conference selama 5 hari. Disitulah saya benar2 melakukan semua sendiri, yah mungkin kecuali masak karena saya pesan catering 3 kali seminggu kalau tidak saya tidak mungkin gendong2 bayi sambil masak, apalagi waktu itu Mye termasuk rada rewel dan bau tangan yang maunya digendong setiap saat, bahkan tidurpun susah ditaro dikasur. Saya pernah mencoba memasak sambil menggendong baby Mye dengan kain gendongan batik ala Indoensia, tapi sepertinya hal itu terlalu mengerikan. Tapi akhirnya dari situ saya belajar management waktu untuk diri saya sendiri dan untuk baby Mye. Teman saya tidak ada yang bisa membantu karena rata2 punya bayi juga atau sedang hamil besar. Apalagi saya tinggal di dalam kampus yang agak sepi dan agak jarang busnya ditambah tinggal di lantai 4 tanpa lift. Paling2 teman2 pada telepon saya memastikan kalau saya baik2 saja dan tidak kekurangan apa2. Yang sering datang berkunjung paling Bu Dewi dan Pak Pikaar, ibu & bapak “angkat” saya yang juga suka membawakan catering saya, karena Bu Dewi lah yang memasak catering untuk saya. Mencoba untuk terus adaptasi dengan kehidupan baru memang gak gampang awalnya tapi Alhamdulillah akhirnya bisa juga melewati saat2 bener2 sendirian itu. 
our little mom and babies gathering every tuesday :)
Alasan lain kenapa kita tidak memanggil ibu saya atau mertua saya untuk mendampingi saya saat melahirkan dan pasca melahirkan adalah karena 2 bulan setelah melahirkan kita harus balik ke Indonesia karena kontrak kerja suami sudah selesai. Jadi menurut kita malah kita bakal tambah ribet kalau harus urus surat2 mengundang orang tua ke Belanda, kemudian menjemput dan mengantar ke airport, dsb. Jadi kita pikir toh setelah 2 bulan kita pulang ke tanah air ini jadi nothing to lose dan kita positive thinking kalau kita memang bisa melakukan semua berdua saja. Sampai saat ini saya masih enjoy bisa ngurus rumah tangga sendiri, walaupun pasti ada satu dua hari dimana kita exhausted, tapi daripada saya ketergantungan dengan seorang asisten yang ternyata akhirnya membuat saya malas kerjain ini itu dan membuat badan saya tambah gendut, lebih baik berolahraga sedikit setiap hari supaya bugar. :D


-FIN-

2011/07/04

My Experience Having a Baby in The Netherlands: Part 4. Belajar dari Kraamzorg

pengumuman di koran
Kita pulang ke apartemen dengan taksi yang dipesankan oleh kraamzorg. Pas keluar dari ruang bersalin rumah sakit sepiiiii banget. Maklum, hari kedua Natal, who would go to hospital on second day of Christmas if there is no emergency, right? Perjalanan pulang pun cepet banget karena jalanan lancar banget. Pas sampai di depan pintu apartemen, setelah Myesha dalam car seat, koper dan barang2 lain dikeluarin dari taksi, baru deh mikir, gimana ya bawa semua ini ke atas cuma berduaan aja? Solusinya adalah suami saya bawa semua barang2 yang berat dan saya cuma bawa satu tas kecil ringan yang tadinya isinya adalah perlengkapan kraampakket. Naikin 4 lantai waktu itu emang koq rasanya lama amat ya… hahaha.. secara naiknya juga pelan2 sambil takut2 jahitan luka melahirkan bisa kebuka. Tapi Alhamdulillah, sampai juga saya di lantai 4 dengan sendiri tanpa di gendong. :D

Pas baru masuk rumah rasanya sepi, selain karena hari itu hari kedua natal, masih pagi2 pula, juga karena gak ada yang nyambut, mungkin seandainya di Indonesia kita pasti disambut banyak orang… orangtua pastinya, sanak saudara, mungkin teman2 juga. Baby Mye saat itu masih tertidur pulas, bahkan saat saya pindahkan dari car seat ke baby box dia tetep tidur pulas. Kita tinggal nunggu kraamzorg datang aja nih.

Satu jam setelah itu, kraamzorg pun datang. Namanya Ria, lucu ya seperti nama Indonesia, orangnya ramah, periang, kira2 umurnya 50an, tingginya kira2 160cm. First impression terhadap Ria positif banget. Setelah Ria melihat baby Mye yang masih tidur, lalu menyuruh saya dan suami saya untuk tidur saja karena dia tau kita semalaman gak tidur, sementara dia beberes, dia bilang dia bisa menemukan apa saja yg dia butuhkan jadi kita gak perlu kawatir untuk kasih tau dia macem2. Wow, enak juga ya, orangnya ternyata cekatan & tau apa yang harus dilakukan tanpa kita banyak ikut campur. Setelah sekitar 1 jam tidur, lalu kita bangun karena baby Mye ternyata mulai bangun juga.

Ria mengajarkan saya dan suami saya bagaimana menggantikan popok. This is important one. Biasanya kalau saya lihat di Indonesia, kalau bayi digantikan popok, orang2 Indonesia cenderung mengangkat kaki bayi hingga pinggulnya juga terangkat untuk bisa menarik & menaruh popok, tapi ternyata itu SALAH. Yang harus dilakukan adalah memutar pinggul bayi ke kanan dan ke kiri untuk mengambil dan menaruh popok, sehingga kaki bayi tidak diangkat, apalagi pinggulnya yang masih ringkih juga jadi aman. Untuk membersihkan bagian intim & pantat bayi juga caranya dengan menekuk kaki bayi ke arah perut bayi, bukan diangkat ke atas. Hal ini terutama penting sekali untuk bayi2 perempuan agar pertumbuhan pinggulnya bagus dan hal ini setidaknya dilakukan hingga bayi berusia 3 bulan. Walaupun akhirnya saya melakukan hal tersebut hingga sekarang sampai Mye udah 1,5 tahun, karena dengan kebiasaan tersebut saya malah jadi gak tau gimana caranya koq kaki bayi diangkat2 keatas. Saat Mye dulu dirawat di rumah sakit saat kena DBD, para suster gantiin popok Mye dengan mengangkat kaki Mye dan saya malah melihatnya sangat takut & gak tega. Saya lihat juga di acara TV jepang tentang perawatan bayi, mereka juga melakukan step2 yang sama dengan yang pernah diajarkan oleh kraamzorg Belanda. Jadi berarti cara tersebutlah yang paling benar.

Hal kedua yang diajarkan Ria adalah how to breastfeed. Ria mengajarkan saya posisi2 yang nyaman untuk menyusui. Misalnya dengan senderan, menggunakan bantal dan kebetulan saya memang beli bantal untuk menyusui jadi bantal tersebut memang sangat membantu. Ria bahkan menaruh satu pak besar popok dispo diatas kaki saya supaya kaki saya lebih tinggi saat duduk sehingga membuat posisi menyusui lebih nyaman. Saya pokoknya di service bak princess oleh Ria.

Menyusui Mye pada awalnya memang agak susah karena Mye tidak mau membuka mulutnya dan mengulum puting payudara saya. Tapi kalau di test dengan mengenyot jari kita dia ada reflex menyedot. Kayanya itu memang kasus yang rada jarang mereka temui. Mye dicoba juga untuk menyedot dengan dot botol susu tapi ternyata gak mau juga. Ria memberi solusi untuk saya memompa ASI saya lalu diberikan ke baby Mye dengan disendokin. Tapi ASI saya ya pastinya masih sedikit, tapi Ria bilang gak masalah. Saat hari kedua bidan datang ke rumah untuk periksa baby Mye, bidan juga membawakan susu formula. Katanya gak apa2 kalau dikasih susu formula dulu dengan disendokin karena takut baby Mye dehidrasi, tapi bidan dan Ria selalu menekankan untuk terus mencoba, mencoba dan mencoba jangan putus asa untuk menyusui karena ASI adalah yang terbaik, susu formula adalah hanya untuk membantu saja. Akhirnya setelah 3 hari mencoba dan mencoba dan juga mencoba “berbicara” dengan baby Mye, baby Mye bisa juga mengulum & minum ASI saya!! Waahhh senang sekali rasanya!!! :D Setelah 3 hari pula akhirnya susu formula saya stop.

Ria mengajarkan saya untuk menyusui setiap 2,5 – 3 jam dan setiap kali menyusui untuk satu payudara waktunya adalah antara 10-15 menit. Seandainya baby Mye nangis saat diantara waktu menyusui mungkin kita bisa coba tenangkan dengan menggendong atau ajak bermain, karena kalau tiap kali nangis disusui takutnya kita bakal kerjaan kita jadi nyusuin terus. Kalau menurut saya sih mungkin jadi membuat bayi kita lebih teratur aja sih waktu menyusuinya, hmmm jadi kaya “ngatur” waktu laparnya tiap 3 jam, hal ini juga jadi bagus untuk saat tidur malam supaya gak kebangun terus tiap jam, tapi setidaknya bangun setiap 3-4 jam, dan hal itu yang Alhamdulillah terjadi dengan baby Mye tiap malam kira2 terbangun tiap 3-4 jam, jadi saya juga ada waktu untuk istirahat dan “nyetok” ASI dalam tubuh saya. Kalau seandainya bayi ketiduran saat baru menyusui satu payudara yang kita bisa lakukan adalah menyusui satu payudara 10-15 menit lalu ganti popok supaya bayi bangun lagi kemudian dilanjutkan dengan payudara satu lagi 10-15 lagi.

Saya mendapatkan pelajaran dari teman saya yang sudah melahirkan juga, kalau kraamzorgnya mengajarkan untuk menyusui berganti2 dengan cara misalnya yang pertama menyusui dengan payudara kiri kemudian payudara kanan, untuk menyusui selanjutnya dimulai dengan payudara kanan dulu baru dilanjutkan dengan yang kiri. Hal ini karena ada yang namanya foremilk dan hindmilk dimana foremilk adalah ASI yang agak lebih encer konsistensinya dan hindmilk adalah yang lebih kental dengan lebih banyak nutrisi. Jadi seinget saya, ASI pada payudara terakhir yang kita berikan ke bayi adalah yang memiliki hindmilk, sehingga nanti bayi bisa mendapatkan kedua foremilk dan hindmilk.  

Untuk tahap2 awal diantara waktu menyusui sebaiknya saya pompa ASI supaya ASI saya tambah banyak dan lancar. Hal itu bisa dilakukan selama 2 minggu sampai 1 bulan pertama. Dari kraamzorg kita juga dikasih booklet yang isinya jurnal tentang yang dilakukan selama 8 hari kraamzorg bersama kita. Booklet itu harus diisi oleh kita juga, terutama kolom2 tentang jam berapa saja kita menyusui, lamanya berapa lama tiap payudara, berapa kali ganti popok (beserta jam berapa saja diganti popoknya), berapa kali pipis dan poop, apakah kita juga mompa ASI (berapa kali mompa & jam berapa saja). Jadi mereka memang sangat detail tentang hal demikian. Bahkan kalau kraamzorg teman saya katanya sampai harus menuliskan warna poop sang bayi. Saya rasa itu untuk mengamati perubahan warna poop takut2 ada kasus seperti baby Bilqis (mungkin teman2 ingat soal penyakit kelainan hati yang dialami baby Bilqis) dimana ditandai dengan perubahan warna poop menjadi keabu2an pada 8-10 hari pertama kehidupan bayi.

Hal ketiga yang diajarkan Ria adalah memandikan bayi. Yang pertama diajarkan untuk memandikan bayi adalah suami saya, karena takutnya saya masih belum cukup kuat untuk menggendong bayi di dalam bak mandi, saya malah disuruh rebah2an saja.. hahaha… Tapi saya tetap pengen lihat. Berbeda dengan bak mandi bayi pada umumnya, bak mandi bayi di Belanda ada yang bentuknya bulat seperti ember yang besar, jadi biasanya bayi newborn sampai 3 bulan biasanya dimandikan di dalam bak mandi bulat lalu setelah 3 bulan baru pakai bak mandi lonjong. Awalnya emang ngeri banget lihat bayi dimandikan dengan cara di cemplung begitu, tapi ternyata lama2 nyaman juga melakukannya. Karena saat itu musim dingin, Ria menyarankan untuk tidak memandikan baby Mye setiap hari, jadi diselang seling, sehari mandi, sehari lap. Hal ini untuk mencegah kulit bayi menjadi kering. Hal lain yang perlu diperhatikan adalah letak bathtub bayi yang setidaknya sepinggang kita supaya kita pas mandikan bayi tidak bungkuk. Bayi juga biasanya tidak di lap dengan handuk, yang seperti biasanya dilakukan di Indonesia, tapi di lap hanya dengan hidrofiel luier atau sejenis alas ompol yang 100% katun dan lembut untuk kulit bayi.

aluminium bedkruik
Hal rutin lainnya yang dilakukan kraamzorg adalah mengecek suhu tubuh bayi. Saat baby Mye lahir suhu tubuhnya memang rendah, well, untuk ukuran di Belanda rendah, yaitu 36.1. Karena saat itu musim dingin harusnya setidaknya diatas 36,5. Jadi untuk menghangatkan tubuh baby Mye perlu sweater wool atau selimut wool, pokoknya yang terbuat dari wool asli untuk nyelimutin Mye. Ditambah 2 botol bedkruik (penghangat kasur) yang di isi air mendidih lalu dibungkus dengan hydrofiel luier (alas ompol) supaya aman untuk kita dan bayi, juga supaya gak ngegelinding ke arah bayi. Jarak antara botol penghangat dengan bayi juga harus sekitar lebar satu telapak tangan hingga satu jengkal.  Jadi suhu yang normal untuk bayi adalah antara 36.5 hingga 37.2, setelah baby Mye mencapai suhu badan sekitar 37 derajat akhirnya sweater wool gak diperlukan lagi, jadi hanya menggunakan selimut biasa dan bedkruik dua di kanan kiri Mye.

Selain merawat bayi, kraamzorg juga memeriksa keadaan sang ibu. Jadi setiap pagi Ria memeriksa jahitan saya, mengecek denyut nadi, memeriksa bagian perut saya, payudara saya. Jadi kraamzorg juga memastikan kalau sang ibu dalam keadaan sehat dan fit.

Kraamzorg juga membersihkan rumah, mengganti sprei & membersihkan tempat tidur, membersihkan kamar mandi, menyetrika, mencuci piring, mencuci baju (dengan mesin cuci pastinya) dan bahkan memasak jika kita mau dia memasak. Jam kerja kraamzorg adalah antara 3-8 jam sehari. Karena rumah saya kecil dan tidak banyak yang dilakukan maka kraamzorg hanya bekerja 3 jam sehari saja. Pembayaran kraamzorg sekitar 70-80%nya ditanggung oleh asuransi, nah jadi lumayan juga sih mengurangi biaya pengeluaran untuk kraamzorg.

Sayangnya Ria harus libur saat tahun baru tiba. Ria memang kena shift bekerja saat liburan Natal tapi libur saat liburan tahun baru, jadi saat tahun baru kraamzorgnya ganti. Padahal sayang banget tinggal 3 hari lagi eh Ria harus pergi, dan kita sebenernya senang banget dengan Ria karena orangnya cekatan, kalau kerja gak banyak ngomong tapi beres rapih dan bersih, gak perlu banyak instruksi tapi dia bisa baca pikiran kita apa aja yang perlu dilakukan. Sedangkan kraamzorg yang kedua (saya lupa namanya) orangnya lebih muda, belum menikah dan sayang sekali cara bekerjanya tidak sebagus Ria. Kali ini perlu banyak instruksi, banyak memberitahu & orangnya banyak ngobrol tapi kerjaanya sedikit. Oh ya, satu lagi, sepertinya dia banyak mengeluh karena untuk menyetrika baju saja dia bilang kalau dia sendiri gak pernah menyetrika baju. Huh! Agak menyebalkan ya. Tapi ya mau gimana lagi, toh tinggal 3 hari lagi dan saya dan suami saya harus kuat2in saja. 


to be continued... 

2011/06/20

Renungan Saat di Bus

Hari ini saya pergi belanja sendiri ke centrum Atsugi. Kebetulan hari ini hari sabtu jadi suami saya bisa jaga Mye dirumah dan karena cuaca agak mendung lebih baik antara saya atau suami saya saja yang belanja sendiri ke supermarket. 

Seperti biasa ke centrum Atsugi harus pulang-pergi naik bis, sekali jalan kira2 20 menit. Kalau jalanan agak rame mungkin agak lebih lama. Kadang suka mikir, gini lah nasib tinggal di rantau, kemana2 naik bus atau kereta, soalnya gak punya mobil. Sebenarnya kita bisa aja beli mobil second, seperti yang dilakukan beberapa teman asing lainnya yang sudah berkeluarga, tapi karena suami saya gak bikin SIM internasional di Indonesia jadi gak bisa nyupir deh di Jepang. Berbeda dengan di Belanda, kalau kita mau nyetir disana ya harus ikutan dulu sekolah nyetir disana & harus lulus tes ujian tulisan & praktek. Saya sendiri gak bisa nyetir, jadi pas jaman masih single dulu, kalau ayah saya atau kakak saya gak bisa antar atau kalau gak ada tebengan teman, ya kemana2 naik bis. Pas udah nikah ya saya jadi sangat tergantung suami saya kemana2 dianterin. 

Bagaimanapun juga, naik bus atau kereta atau metro di negara maju seperti Jepang, Belanda atau Spanyol sangat nyaman. Ada jadwal yang pasti, supirnya sabar & gak ugal2an karena gak kejar setoran, relatif aman dari copet, aman & nyaman juga buat ibu2 seperti saya yang bawa anak dengan baby stroller. Hmmm.. ya kecuali di Jepang kalau naik bis dengan stroller emang rada ribet, tapi kalau di Belanda emang nyaman banget. Nah kalau udah kaya gini nih yang bikin saya betah tinggal di rantau. Gak ada rasa ketergantungan atas mobil pribadi atau keharusan bisa nyetir, apalagi saat udah punya anak. 

Itulah perbedaan besar yang saya rasakan antara tinggal di Indonesia dengan di rantau. Saya merasa sangat "tergantung" dan "terkurung" saat berada di Indonesia karena saya gak bisa bebas pergi dengan anak saya kalau tidak diantar naik mobil oleh suami saya. Kemana2, bahkan ke klinik dokter Mye yang ada diseberang rumah saja saya harus menunggu suami saya untuk mengantarkan saya naik mobil. Karena untuk menyeberang jalanan di depan rumah itu memang lumayan bahaya, apalagi karena banyak angkot & motor seliweran. 

Pastinya saya merasa sangat rindu dengan tanah air, apalagi kalau ingat orang tua, keluarga, teman2, makanan Indonesia, atau yang paling sederhana adalah kalau ingat bahwa saya bisa berkomunikasi dengan lancar dengan orang2 setanah air. Karena misalnya di Jepang gini, saya gak bisa bahasa Jepang dan orang Jepang jaraaaannggggg sekali yang bisa bahasa inggris, jadilah saya sulit untuk komunikasi. Kalau ingat yang kaya gitunya ya pengen banget pulang. Apalagi kalau lagi kangen masakan Indonesia. Seenak2nya bikin sendiri atau mungkin bisa nemu restoran masakan Indonesia tapi kan kadang bahannya ada yang gak lengkap lah, atau kadang ya kita gak bisa bikin makanan Indonesia tertentu karena gak ada bahannya. Yang pasti kangen juga makan makanan di kaki lima. 

Tapi balik lagi ke enaknya & nyamannya tinggal di negara maju yang teratur & rapih, saya rasa siapapun yang udah pernah ngerasain pasti jadi segan untuk tinggal di Indonesia. Bukannya saya sombong atau tidak cinta Indonesia, tapi untuk kondisi seperti saya yang sudah punya anak, terasa sekali bedanya tinggal di Indonesia dengan di negara maju. Se-gak-enaknya tinggal di rantau, sepertinya saya akan lebih memilih tinggal di negara maju yang teratur & rapih dibandingkan hidup di Indonesia karena tinggal di negara seperti Jepang, Belanda & Spanyol membuat saya merasa "bebas" dan enjoy jalan2 dengan aman & nyaman.

Saya pernah chat dengan teman yang saat itu ada di London, Inggris untuk tugas selama 6 bulan. Dia bilang dia gak sabar ingin pulang ke Indonesia, tapi saya bilang ke dia kalau nanti udah di Indonesia pasti dia kepingin balik ke London. Benar saja pas dia udah di Jakarta, dia ajak chat saya lagi dan bilang ke saya kalau saya benar, saat udah di Jakarta dia malah pengen balik lagi ke London atau ke kota/negara lain karena gak tahan dengan Jakarta yang hiruk pikuk. 

Ya itulah yang saya pikirkan saat saya berada di dalam bis saat menunggu bis berangkat dari centrum Atsugi ke rumah. Biarpun tiap kali belanja ke centrum atau ke supermarket dekat rumah jadi repot bawa bawaan yang berat, tapi setidaknya saya merasa lebih senang melakukannya.


2011/05/30

Berawal Dari Supermarket

Hari itu seperti hari2 lainnya saya pergi ke supermarket dengan Mye untuk belanja grocery. Supermarket andalan saya namanya Food One, jaraknya kira2 1 km dari apartemen rumah saya dan gak ada bis kesana jadi biasanya sih kita jalan kaki saja (kira2 10 menit jalan kaki). Pas sampai di depan supermarket, gak seperti hari2 lainnya, ada dua ibu2 bersama anak2nya lagi ngobrol. Salah satunya menyapa saya dan pengen lihat Mye. Akhirnya saya berhenti dulu untuk ngobrol dengan mereka. Waduh padahal bahasa jepang saya kan minim banget dan mereka juga bahasa inggrisnya minim. Tapi saya masih ngerti pas si ibu yang menyapa saya tanya umurnya Mye dan saya jawab dengan bahasa jepang yang terbata2. Tapi kayanya mereka gak nangkep omongan saya.. hihihi... Lalu si ibu itu tanya ulang tahun Mye, saya jawab pakai bahasa inggris eh tp dia gak gitu ngerti, saya coba pakai bahasa jepang, walaupun agak2 ngaco tapi akhirnya ngerti juga mereka. hahaha.. Ternyata anaknya seumuran dengan Mye. Anak si ibu itu laki2, tapi badannya lebih kurus & lebih pendek sedikit. Mye beratnya 12 kg sedangkan anaknya hanya 10 kg. Dia kaget banget pas tau Mye beratnya 12 kg.. hahaha... Ibu yang satu lagi anaknya baru 10 bulan, dia juga heran si Mye bisa gede gitu. Lah wong emang kayanya bayi2 orang jepang kecil2 yah.

Lalu saya tanya rumah mereka dimana, katanya mereka tinggal di dekat Food One. Wah enak sekali, saya bilang, gak perlu berjalan jauh. Si ibu yang anaknya seumuran Mye lalu tanya alamat saya. Berhubung nama apartemen saya pakai bahasa inggris, Bellflower Heights, saya coba kasih tau pakai bahasa inggris dulu, tapi mereka gak mudeng. Lalu saya pakai bahasa inggris yang di jepangkan, Berufurawa Haise, lalu mereka masih mikir2 itu dimana ya apartemennya. Lalu saya ingat kalau di ID card kan ada alamat saya, ya udah saya kasih liat aja ID card saya... Hahaha... Tapi mereka masih gak tau letak apartemennya dimana, jadi saya coba kasih2 patokan apartemen saya dengan bahasa jepang saya yang ngaco, saya bilang dekat York Mart (Seven Eleven disini namanya York Mart), mereka masih bingung. Lalu saya bilang dekat convenience store Lawson, mereka masih mikir. Lalu mereka bilang, oh dekat Shiawase no Oka bakery & police station. Aha!!! They got it!! Hahaha.. akhirnya ngerti juga. Karena udah lumayan lama ngobrol2 saya lalu pamit sama mereka untuk belanja dan saya bilang untuk datang ke rumah saya. 

Well, ajakan ke rumah sebenernya saya buat basa basi ajah, lagian saya juga agak ragu kalau mereka mau datang ke rumah saya apalagi kan mereka susah untuk komunikasi dengan saya. Tapi ternyata saya salah. Seminggu setelah itu, tiba2 pagi2 jam 10an ada yang bel ke rumah, padahal saya gak lagi nunggu siapa2. Pas saya buka pintu ternyata itu si ibu2 yang punya anak seumuran dengan Mye!! Waaahhhh saya kaget sekaligus senang banget dia ternyata mau mencari apartemen saya & datang. Ya ampun padahal waktu itu saya belum mandi!! Saya masih pakai piyama dan baru aja selesai vacum cleaning dan ngepel. Bahkan Mye aja belum dimandiin karena dia baru selesai sarapan. Hihihihi... Tapi saya persilahkan dia masuk dan saya bilang saya mau mandiin Mye dulu. Jadilah dia ikut lihat Mye dimandiin, dipakein minyak telon, dipakein baju & dipakein hair lotion. Dia penasaran banget dengan minyak telon, minyak kayu putih, hair lotion dan lotion anti nyamuk yang saya punya untuk Mye. Saya bilang ini semua dari Indonesia. Lalu dia cium2 semuanya dan dia senang banget dengan wangi2an minyak telon, minyak kayu putih & hair lotionnya. Bahkan anaknya juga ikut cium2 baunya dan suka sekali!! Hahaha... Dia sampai bilang kalau saya dapat kiriman lagi dia mau nitip, nanti dia mau bayar. Ya ampun, saya bilang gak perlu bayar, nanti saya kasih gratis. :D

Setelah mandiin Mye baru deh kita tukeran informasi tentang masing2. :D  Dari mulai nama, nomor telepon dan email. Namanya Kasumi dan anaknya adalah Toshiki. Sementara kita ngobrol2, Mye dan Toshiki juga main2. Lucu sekali melihat Mye dan Toshiki main. Kadang Mye jahil ambil barangnya Toshiki, lalu Toshiki ngambek tapi Mye malah kabur dan akhirnya mereka kejar2an keliling rumah. Kadang Toshiki yang jahil ambil mainan Mye dan Mye ngambek, jadilah kejar2an lagi. Hahahaha... Mereka bahkan main smack down!! Kita melihatnya ketawa cekikikan. Mye bahkan hampir cium Toshiki!! Wkwkwkwk... Lucu sekali ya anak2 itu biarpun belum bisa ngomong tapi mereka bisa komunikasi dengan cara mereka sendiri. 
showing her books

baby chat, mojok nih ye.. :p

i show you how to use my phone.. :)
Saya juga mencoba memperkenalkan Indonesia ke Kasumi. Selain dari sekedar minyak telon, saya kasih lihat foto2 nikahan saya. Dia kagum dengan kebaya yang kita pakai, akhirnya saya kasih lihat juga foto2 nikahan dengan adat2 tradisional Indonesia ke dia. Untung ada facebook, jadi saya bisa kasih lihat foto2 nikahan teman2 saya yang dari Sumatra, Jawa, Bali. Oh btw, thanks buat teman2 saya yang udah naro foto2 nikahannya di facebook, saya jadi bisa promosi budaya Indonesia lewat foto2 mereka. Hehehe.. Saya juga jelaskan kenapa saya memakai jilbab dan saya mencoba jelaskan kalau saya orang Islam dan tidak makan babi juga alkohol. 

Pas saatnya makan siang, dia bilang kalau mau masak silahkan. Saya tawarkan dia untuk makan siang bersama, walaupun waktu itu saya bingung harus sediakan apa ya karena saya gak siap masak apa2. Hahaha.. Tapi untung saya masih punya ayam cah toge & rebung sisa kemaren di kulkas, jadi ya udah saya angetin aja dan saya bikin corn soup dengan bayam. Untung dia suka dengan makanan saya. :D Setelah makan siang, Kasumi pamit pulang karena anaknya yang pertama, yang berumur 11 tahun, sebentar lagi pulang dari sekolah. 

Kebesokannya pas saya cek email ternyata Kasumi kirim email. Lalu kita janjian untuk ketemu lagi minggu berikutnya di rumah Kasumi. Kita janjian untuk ketemu hari kamis, karena saya gak tau arah rumah Kasumi, kita janjian di depan Food One. Pas hari kamis, saat saya jalan ke Food One ternyata kita bertemu di tengah jalan. Dia heran saya tau jalan belakang menuju Food One. Saya bilang memang biasanya saya lewat belakang karena lebih dekat, sedangkan minggu lalu Kasumi datang ke rumah saya lewat jalan depan yang lebih jauh & muter2. Pantes aja dia bilang jalannya agak jauh. Hahaha... 

Siang itu saya makan ala Jepang lagi. Kasumi bikin nasi dengan gandum, wortel dan edamame yang di masak barengan di rice cooker dan juga bikin ayam karage. Wah saya baru tau kalau orang jepang senang bikin nasi yang di campur gandum. Ternyata enak juga. Mungkin itu gantinya makan nasi merah kali ya. Biar nasinya agak berserat dan lebih sehat. Mye juga senang main2 bersama Toshiki lagi. Dan seperti minggu lalu, setelah capek main2 bersama Toshiki, Mye bisa tidur siang dengan pulas. Kata Kasumi, Toshiki juga begitu, dia bisa tidur siang lama. Hahahaha... 

After all, it's not too bad living in this small city. Biarpun saya dan Kasumi susah komunikasi, tapi untung ada internet dan teknologi free translation di internet, jadi kalau Kasumi gak ngerti ya pakai aja free translation. Hihihi.. Pas di rumah Kasumi, untung ada kamus, jadilah kita pakai kamus. Kayanya perlu beli kamus digital juga nih, biar lebih gampang. :D

2011/05/29

Payung Cantik & Payung Besar

Ngomongin payung, saya jadi inget kalau pas saya kuliah dulu saya punya payung lipat lucu yang kalau kena air baru terlihat pattern gambarnya. Waktu itu saya beli di barel (balik rel) di kampus UI Depok, harganya emang lebih mahal dari payung2 lipat tapi saya suka banget, selain warnanya hijau (warna kesukaan saya), bahannya cukup kuat dibanding payung2 murahan lainnya & pattern bunganya yang unik. Tapi sayang pas saya ke Belanda, ternyata payung itu gak tahan sama angin Belanda yang suangat kuenceng... hihihi.. jadilah si payung cantik itu rusak.. hix hix... :'( Mau beli lagi yang kaya gitu bingung cari dimana.

Pas saya sampai di Jepang, saya melihat banyak sekali cewe2 Jepang pakai payung cantik. Tapi selain cantik juga besar2, jadi bukan model payung lipat. Payungnya benar2 lucu, dari patternnya yang lucu, ada yang pakai renda2, ada yang motifnya unik, ada yang warna soft sampai gonjreng. Ya ampuuunnn komplit deh pokoknya. Harganya pastinya juga 'cantik'.. hihihi... Mereka bahkan punya payung cantik yang khusus untuk summer, untuk melindungi dari sinar UV. Sampai ditulis spesial untuk melindungi dari sinar UV. Tapi bentuknya itu loh yang lucu banget. Berenda2 seperti cewe2 kompeni jaman Belanda suka pakai. Ada juga payung cantik berenda yang bisa untuk all season. Jadi mungkin kalau gak mau punya banyak payung pastikan payung cantik yang kita pilih ada tulisan 'all seasons umbrella'.  Banyak juga payung cantik yang model lipat dan ada yang modelnya emang imut kecil. Kalau saya lihat di mall rasanya mau saya borong semua. Hahaha... 

Pemandangan payung besar juga didominasi dengan payung besar yang transparan. Kayanya orang Jepang senang dengan payung yang transparan. Tapi mungkin bukan suka karena 'transparan'nya, menurut pengalaman saya, kalau hujan deras diikuti angin kencang kan mau gak mau kita harus nutupin muka kita dengan payung tuh, nah kita kan jadi gak bisa lihat jalanan. Apalagi kalau mau nyebrang jalan, kan harus angkat ke belakang payungnya untuk lihat apa lampu lalu lintasnya udah hijau untuk nyebrang atau belum. Pastinya kalau di angkat ke belakang kan jadi kena air hujan deh. Nah kalau pakai payung transparan kan gak perlu tuh angkat payung ke belakang, jadi tetep masih bisa lihat jalanan deh. Hehehe...

Para lelaki di Jepang juga gak segan2 bawa payung besar kemana2. Para lelaki itu dari yang masih sekolah, yang ABG, yang kerja, yang udah tua, yang dandannya gaul, yang dandannya biasa ajah, kalau musim hujan mah pada gak segan tuh bawa payung besar. Awalnya agak lucu melihat laki2 Jepang bawa payung besar, karena pemandangan kaya gitu jarang banget saya lihat di Indonesia atau di Belanda atau di Spanyol, sejauh ini Jepang adalah negara dengan laki2 terbanyak yang nenteng payung (terutama payung besar, bukan payung lipat) di jalanan. Biasanya kan laki2 paling punyanya payung lipat, atau mungkin kalau di Indonesia mah karena ada ojek payung paling mereka sewa payung.. hihihihi...

Untungnya di Jepang biarpun kita punya payung cantik gak bakal deh tuh payung raib diembat tangan jahil. Kalau mau masuk ke restoran atau supermarket atau ke salon atau ke dokter gigi, mereka selalu sediain tempat untuk naro payung di pintu masuknya. Kita gak perlu kawatir karena payung kita gak bakalan hilang. Pas kita keluar lagi payung kita masih anteng di tempat payung. Kalau mau masuk ke mall biasanya di sediain plastik untuk payung, jadi pas masuk payung basah kita gak bikin basah lantai mall. Kayanya di mall2 besar di Jakarta juga udah mulai tuh disediain plastik untuk payung. 

Kayanya buat koleksi mungkin harus juga nih beli satu payung cantik dari Jepang. :D


2011/05/23

My Experience Having a Baby in The Netherlands: Part 3.2. Persalinan

newborn Myesha ;) 26 Des 2009
Hari itu hari Natal 25 Desember 2009 & it was really a white christmas because snow was falling from the sky. Not too heavy but just made that day beautiful. But my baby did not want to come out in a snowy day. Hahaha… Akhirnya sekitar jam 4 sore, pas salju udah mulai reda, saya merasakan kontraksi lagi tapi gak rutin, kadang tiap 15 menit, kadang tiap 30 menit kadang sejam kemudian. Saya jadi bingung banget. Pas sore saya udah mulai keluar flek merah, tapi berdasarkan petunjuk kan kalau flek merah gak perlu kawatir & saya gak ngerasa kalau ketuban udah pecah, jadi saya gak hubungin bidan. Tapi akhirnya jam 9 malam saya telepon bidan juga karena saya bingung kenapa pola kontraksinya aneh & saya gak tau apa ketuban udah pecah, atau belum. Apalagi sebelumnya itu kan pernah dibilang ketuban berkurang tapi saya gak tau/gak sadar. Takutnya tau2 ketuban udah tinggal sedikit & malah jadi kenapa2.

Bidan yang saya hubungi ternyata udah ganti shift. Tadi pagi yang angkat telepon saya adalah Carla, sedangkan sekarang adalah Binke. Binke adalah salah satu bidan favorit saya. Dia masih muda, energetic & informatif. Saya suka banget sama dia. Di tempat praktek bidan ada 5 bidan kalau gak salah. Tiap kita konsultasi kita gak selalu dengan bidan yang sama. Tapi kita gak perlu kawatir karena kemampuan mereka semua sama, cuma personality bidannya aja yang beda. Bidannya ada yang udah senior ada yang masih muda. Saya senang dengan yang senior karena yang senior biasanya kalem dan pembawaannya bikin kita nyaman & tenang, tapi Binke agak beda dari bidan muda lainnya, biarpun dia masih muda dia bisa bikin saya senyaman & setenang yang udah senior. Saya konsultasi dengan Binke di telepon selama hampir 1 jam. Saya sebenarnya pengen sebentar saja tapi dia memberi banyak “wejangan2” supaya saya bisa tenang. Sepertinya mereka itu gak bakal berenti sampai kita bener2 terdengar tenang.

Tanggal 26 Desember 2009 pk. 0.00, pola kontraksi saya jadi periodic lagi. Awalnya tiap 10 menit, lalu jadi tiap 5 menit, lalu jadi tiap 3 menit. Gimana caranya saya tau koq pola menitnya berubah? Selama kontraksi saya selalu pegang HP di sebelah saya jadi saya tau jam. Bayangin aja nahan sakit sambil liat jam!! Hahaha… Makin lama makin sakit kontraksinya. Akhirnya pas udah tiap 3 menit (waktu itu jam 2 pagi) suami saya telepon bidan & kasih tau kalau udah tiap 3 menit. Bidan bilang kalau dia bakal siap2 ke rumah kita & saya disuruh mandi air panas lagi. Gile jam 2 pagi mandi air panas lagi!!! Tapi itu mandi air panas, biarpun air dah panas banget rasanya tetep dingin banget dan badan masih mengigil, walaupun rasa sakitnya emang berkurang dikit. Tapi tetep kontraksi gak berubah tetep tiap 3 menit. Setengah jam kemudian akhirnya bidan datang juga. Lalu bidan langsung cek saya & katanya ternyata saya udah bukaan 7!!! Bidan juga kaget & dia bilang kita harus langsung ke RS. Bidan tetap menawarkan apa saya mau melahirkan di rumah karena pembukaan sudah pembukaan 7, tapi saya bilang, kita ke RS ajah.

Lalu bidan telepon kraamzorg supaya kraamzorg stand by di RS dan saya mulai siap2 pakai baju. Untung koper isi segala perlengkapan & kraampaket mah udah langsung tinggal bawa ajah. Binke, sang bidan, baik sekali, dia bahkan yang pasangin saya kaos kaki & pasangin sandal ke saya. Lalu Binke juga suruh suami saya ikut di mobilnya. Biasanya suami itu gak ikutan di mobil bidan. Suami biasanya disuruh naik mobil sendiri atau naik sepeda atau taxi atau bis sendirian. Tapi ya waktu itu jam 3 pagi gak mungkin kan ada bis. Suami saya udah mau telepon taxi tapi Binke bilang gak perlu. Alhamdulillah dia baik mau nawarin untuk bareng.

Ini dia bagian paling seru. Dengan kondisi bukaan 7, saya turun 4 lantai dengan tangga karena gak ada lift. Ho ho ho… untung si Mye gak brojol pas di tangga. Semua teman2 saya pikir saya itu di gendong ama suami saya, tapi mana mungkin kan dia sibuk bawa koper, baby car seat & kraampaket. Hahaha… Itu turun tangga pelan2 banget, tiap saya kontraksi saya berenti dulu, lalu jalan lagi. Binke ada di depan saya, suami saya ada di belakang saya. Pas udah di mobil baru deh bisa duduk tenang. Fiiuuhh.. Di perjalanan ke RS (kira2 makan waktu 10-15 menit dari rumah ke RS) saya masih bisa ngobrol sama Binke. Itu salah satu cara saya untuk alihin perhatian saya dari rasa sakit. Saya tanya udah berapa tahun dia praktek. Katanya dia baru 2,5 tahun praktek bareng Verloskundigen Praktijk Vivre (Praktek Bidan Bersama Vivre). Pantes aja dia masih muda banget, mungkin belum sampai 30 tahun.

Sampai di RS ternyata udah ada kraamzorg yang nyambut. Lalu kraamzorg yang tuntun saya ke ruang bersalin. Saya ditawarkan untuk duduk di kursi roda, tapi saya lebih milih untuk berjalan saja karena kalau berjalan rasa sakitnya sedikit lebih reda dibanding pas duduk. Saya bilang maaf kalau jalannya pelan2, tapi sang kraamzorg dengan lembut bilang gak perlu minta maaf, hal kaya gini itu normal, just take your time. Di ruang bersalin saya diperiksa lagi & katanya baru bukaan 8, jadi harus tunggu lagi. Saya disuruh rebahan miring, karena posisi miring itu lebih baik, selain supaya beban gak terlalu berat ke tulang punggung kita, ternyata posisi miring juga mengurangi rasa sakit pas kontraksi. Bidan bilang untuk memanggil mereka dengan bel kalau saya merasa kalau saya udah harus nge-push bayi. How do I know that?? Bidannya cuma bilang kalau itu natural & kita pasti bisa rasain. O_0 bingung sayah… wkwkwkwkwk.

Akhirnya sekitar pk. 5 lewat saya panggil bidannya & saya bilang kayanya udah saatnya saya ngepush baby. Lalu saya disuruh rebahan telentang lagi. Hayyaaa.. mau rebahan telentang aja rasanya susah beneeerrrr. Sampe akhirnya badan saya di puterin sama suami saya & kraamzorg. Setelah bidan ngecek dan bilang OK untuk push baby, akhirnya pk. 05.32, alhamdulillah hanya dalam 7 menit & hanya dengan 4 kali push Mye akhirnya lahir!!! :D Fiuuhh!!! Bidan & kraamzorgnya juga lega banget bisa lancar banget bayinya keluar soalnya katanya biasanya makan waktu paling gak 20 menit. Itu 7 menit termasuk yang rekor buat mereka. Hahahaha…

Newborn Mye yang fresh from my uterus langsung di taro di dada saya. Kemudian suami saya dipersilahkan untuk memotong tali pusar Mye. Di Belanda termasuk tradisi untuk suami memotong tali pusar anaknya. :D Mye dibiarin di dada saya selama beberapa menit, lalu Mye diangkat, dibungkus selimut yang lebih tebal & dikasih ke suami saya, sementara bidan & kraamzorg menjahit luka saya. Setelah bidan selesai dengan saya, baru bidan memeriksa, menimbang & membersihkan Mye. Newborn Mye gak langsung di mandiin, hanya di lap2 saja sampai bersih. Setelah dibersihkan, Mye dipakaikan baju & ditaro di box kecil di samping saya. Mye gak pernah lepas dari pandangan saya dan suami saya. 

beschuit & pink muisjes
Setelah semua selesai, bidan ke ruang sebelah untuk menulis report & kraamzorg membuatkan saya dan suami saya roti dan beschuit dengan muisjes pink, suguhan khas Belanda kalau ada newborn baby. Sekitar 1 jam setelah itu, saya diajak kraamzorg untuk mandi, saya dibantu untuk berjalan ke kamar mandi. Wow!! Rasanya ringan banget badan!! Tapi jalannya jadi kaya oleng. Hehehe… Setelah mandi saya dibantu handukan, pakai baju, bahkan kraamzorg yang siapkan (maaf aga vulgar) celana dalam saya beserta pembalutnya. Saya serasa jadi princess saat itu, dilayani banget sama mereka.

Satu jam setelah saya mandi, kita pun telepon taxi untuk pulang. Seperti yang sudah saya ceritakan sebelumnya. Kalau kita atau bayi kita gak ada komplikasi, maka prosedurnya adalah kita harus pulang dari klinik bersalin 2 jam setelah melahirkan. Sebenernya saat itu rumah sakit sepi banget. Di ruang bersalin yang satu lagi gak ada yang melahirkan. Jadi bener2 cuma kita berempat aja disitu (bidan, kraamzorg, saya & suami saya), apalagi waktu itu hari kedua natal, saya rasa orang gak banyak yang ke RS. Kita bisa aja santai2 lebih lama di RS, but I don’t really like hospitals. Hehe..

Pk. 9.00 taksi yang kita pesan sudah sampai di RS. Pas kita keluar, ternyata hari itu adalah hari yang cerah. Sun was shining so brightly and warm. Saya rasa Mye emang bener2 milih hari yang cerah untuk lahir ke dunia. :D  Sesampainya di depan apartemen, saya harus naik tanggal 4 lantai lagi. Dengan jahitan, rasa sakit & jalan oleng akhirnya saya berhasil juga naik ke lantai 4 apartemen kita. Suami saya membawa Mye yang di dalam car seat di satu tangan dan bawa koper di tangan yang satu lagi. Pulang ke rumah setelah melahirkan di hari kedua natal yang sepi, rasanya emang sepi banget, ditambah lagi gak ada yang menyambut. Kalau di Indonesia kan pasti banyak banget yang nyambut. But we were very happy. Soooo soooo happy.

Kraamzorg yang di rumah sakit gak ikut kita pulang, dia hanya membantu di RS saja, tapi dia bilang sekitar pk. 10 nanti kraamzorg yang lain akan datang ke rumah kita. Jadi sekitar 1 jam setelah kita sampai rumah, kraamzorg yang baru akhirnya datang. And this is when our new life has begun. :D


to be continued... 

My Experience Having a Baby in The Netherlands: Part 3.1. Persalinan

Saya tadinya berharap Mye bisa lahir sekitar seminggu sebelum due date. Berdasarkan bidan katanya due date tanggal 25 Desember 2009, tapi kita berharap Mye lahir kira2 seminggu lebih awal karena pas 1 Maret 2010 kita harus balik ke Indonesia for good, jadi kalau Mye lahir lebih awal nanti umurnya sekitar 2,5 bulan, jadi aga gedean dikit lah daripada pas banget 2 bulan. Bawa bayi umur 2 bulan di pesawat masih agak menyeramkan buat saya waktu itu.

Apa boleh di kata, sekitar seminggu sebelum due date saya masih konsultasi ke bidan & masih kuat jalan2. Boro2 ada tanda2 melahirkan, kontraksi palsu aja gak ada. Saat itu saya di temani suami untuk konsultasi. Pas konsultasi itu bidan tanya tentang gerakan bayinya. Saya cerita kayanya akhir2 ini gerakannya aga berkurang, ntah karena bayi sudah terlalu besar atau gimana. Bidan menyarankan untuk langsung di cek ke rumah sakit karena takut kenapa2. Jadilah kita dari bidan langsung di suruh ke rumah sakit untuk observasi. Di rumah sakit saya di pasangin alat yang dipasang di perut untuk deteksi gerakan bayi. Lalu saya di USG lagi untuk lihat bayinya. Berdasarkan hasilnya sih gerakan bayinya masih OK tapi ketubannya agak berkurang, gak tau itu bisa berkurang karena apa. Mereka bilang kita sebaiknya kembali lagi 2 hari kemudian untuk cek terus, tapi di rumah juga saya harus pastiin kalau bayi juga bergerak2.

Saya pernah dikasih tau teman kalau setelah 7 bulan, bayi paling gak bergerak (bergerak muter2 atau gerakan besar lainnya) 10 kali dalam sehari. Saya rasa emang bener juga tuh teman saya, kita sebaiknya menghitung berapa kali bayi bergerak, supaya kita tau seberapa aktif si bayi. Setidaknya supaya gak bikin kawatir. Anyway, setelah 2 hari kita balik ke rumah sakit dan di observasi lagi. Alhamdulillah hasilnya bagus, kali ini pas perut saya di pasang alat pendeteksi eh taunya bayinya banyak gerak (mungkin tau kalau lagi di observasi jadi nampang deh.. hahaha…) dan volume air ketubannya udah kembali normal. Seandainya hasilnya kurang bagus, maka yang tadinya saya ditangani bidan bakal berpindah jadi ditangani obgyn. Tapi karena katanya gak masalah jadi kita bisa pulang dengan tenang. :)

Pas tanggal 25 Desember 2009 pk. 0.00 saya mulai ngerasain yang namanya sakit nyut2 lumayan kenceng di daerah pinggang, kaya kalau kita lagi sakit pas haid. Awalnya saya gak ngerti apaan, saya juga bingung gak bisa tanya siapa2. Kita gak mengajak ibu saya atau ibu mertua saya datang ke Belanda untuk mendampingi kita pas saya melahirkan karena waktu itu waktunya tanggung banget, toh setelah 2 bulan melahirkan kita bakal balik ke Indonesia. Ternyata sakit nyut2nya itu periodic setiap 15 menit. Akhirnya saya sms ibu saya. Kata ibu saya, ya mungkin aja itu kontraksi, tapi masalahnya ibu saya juga bingung karena beliau gak ada di samping saya. Saya saat itu belum bilang suami, tapi sepertinya suami saya punya feeling yang kuat. Malam itu dia gak bisa tidur & dia samperin saya ke kamar & tanya apa saya mulai kontraksi. Saya bilang ya mungkin aja. Lalu dia bilang, kalau gitu harus pasang bed blocks buru2. Hahahahaha… Bener juga, nanti kalau bidan datang untuk cek tapi bed blocks belum terpasang bisa dimarahin nih.

Sampai pk. 5 pagi kontraksinya rutin setiap 15 menit. Tapi kalau menurut petunjuk yang dikasih tau bidan, saya harusnya menghubungin bidan kalau kontraksi sudah setiap 3 menit. Saat kita udah memasuki minggu ke 36, pas kita konsultasi ke bidan, kita di kasih kertas yang isinya petunjuk kondisi2 yang bakal kita alami kalau mau melahirkan dan petunjuk apa saja yang kita harus lakukan. Misalnya:
1.       Jika ketuban pecah kita harus segera hubungi bidan.
2.       Jika ada flek yang berwarna bukan merah, mungkin hijau, hitam, dsb segera hubungi bidan.
3.       Jika ada flek berwarna merah tidak perlu kawatir & tidak perlu hubungi bidan, kecuali ketuban sudah pecah.
4.      Jika kita sudah merasakan kontraksi setiap 3 menit kita segera hubungi bidan.
5.  Kita tidak boleh langsung datang ke rumah sakit tanpa konsultasi atau tanpa seijin bidan sebelumnya. (Prosedurnya adalah kita telepon bidan, nanti bidan datang ke rumah kita & cek kita, kalau dia bilang belum saatnya ya kita disuruh di rumah ajah. Kalau udah bukaan 6 baru kita dibawa ke rumah sakit. Tapi kayanya kalau ada komplikasi sih langsung di bawa ke RS).
6.    Kalau kita memang ragu, kita boleh hubungi bidan.

Karena saya bingung, saya ya berpatokan aja pada poin “kalau kita ragu kita boleh hubungi bidan”. Akhirnya kira2 pk. 5.30 pagi saya hubungi bidan aja. Bidan bilang itu masih biasa, masih normal, tunggu sampai kontraksi setiap 3 menit. Yang bisa kita lakukan adalah mandi di bawah shower dengan air panas untuk membuat rileks otot2 kita. Ya udah saya ikutin aja sarannya. Jadilah saya jam 6 pagi mandi air panas. Emang bener sih jadi ngurangin rasa sakit. Tapi selain itu ternyata koq jadi ilangin kontraksi juga yak. Hahahahaha.. Soalnya setelah mandi saya malah gak rasain kontraksi lagi. 


to be continued...