2012/06/07

Make Your Own Salmon Furikake


salmon furikake illustration from justbento.com
Furikake adalah bumbu makanan Jepang kering yang berbentuk butiran, tepung atau berserat seperti abon. Biasanya bumbu ini ditaburkan di atas nasi sebagai lauk. Produsen makanan sekarang ini membuat furikake dalam berbagai macam rasa dan kemasan menarik. Furikake biasanya berisi nori, biji wijen, ikan kering/ikan serut kering, sayuran kering. Semua bahan dicampur dan diaduk jadi satu dan ditaro diatas nasi.

Makanan ini disebut "furikake" karena mulanya disimpan di dalam botol yang harus "diguncang-guncangkan" (dalam bahasa Jepang: furu) agar tercampur rata sebelum "ditaburkan" (kakeru) di atas nasi. Asal-usulnya adalah bumbu tabur di atas sekihan (nasi merah) yang disebut gomashio (campuran biji wijen dan garam) dan yukari (garam dan daun perilla bekas perendam umeboshi yang dikeringkan dan dihaluskan).

Pertama kali saya makan furikake sebenarnya bukan furikake dari Jepang tapi dari Korea. Isinya nori, biji wijen, ebi & almond. Waktu itu saya dapat sebagai oleh2 dari teman Korea yang pulang kampung. Rasanya enak banget dan akhirnya saya coba untuk membeli furikake asli Jepang. Tapi entah kenapa koq saya malah gak suka. Saya mencoba beberapa macam furikake, tapi gak ada yang sreg. Apalagi yang isinya sejenis abon ikan, nori, biji wijen & tepung. Ternyata koq baunya amis banget ya... Yang ada malah gak napsu makan. Tapi untungnya sekarang furikake Korea itu dijual juga di supermarket Jepang, walaupun harganya lebih mahal dari furikake Jepang.

Beberapa waktu lalu saya nonton TV dan ada acara masak yang menayangkan cara bikin furikake salmon. Wah! Kebetulan! Furikake salmon really saves my day!! Specially when I don't have anything for lunch or dinner for Myesha.

Bikinnya simple banget. 

Bahan: 
1. salmon tanpa kulit 300gr 
2. air jeruk lemon 
3. 2 sendok makan biji wijen sangrai
4. garam & gula secukupnya

Cara:  
Pertama lumuri salmon dengan air jeruk lemon, rebus salmon sampai matang, mungkin kira2 5-10 menit. Lalu tiriskan salmon. Masak kembali salmon diatas pan tanpa minyak. Hancurkan salmon dengan spatula kayu sampai hancur & kering (teksturnya jadi kaya abon). Tambahkan garam dan gula sesuai selera, sampai terasa cukup gurih. Tambahkan kira2 2 sendok makan biji wijen sangrai. Aduk2 lagi sampai rata dan diamkan dingin. Bisa disimpan di lemari es sampai 5 hari. ^_^

Furikake salmon ini juga bisa dipakai untuk ini onigiri atau untuk isi sushi roll. Myesha suka banget kalau dibikinin ini. Simple dan bergizi tinggi!! ^_^ 




2012/03/05

The Meaning of Name: MAHESYA ABBI ALQANTARA

It was quite difficult at the beginning to find a unique and good name for our second child. Since the beginning of my pregnancy I just had the feeling that I would have a baby boy, instead of a baby girl. Physical changes that happened to my body during pregnancy, specially in the first trimester, convinced me that I would have a baby boy. :p I had small acne all over my face during the first trimester, it was hard for me to put make up on my face. Then on the second trimester I had skin rash, like small red spots all over my neck, chest, shoulder and back. It was very very very itchy and dry. I had to use aloe vera gel regularly and use a non-soap formula shower gel when taking shower and the doctor also gave me special cream for itchy skin. To make more sure that I was having a baby boy, we also asked the doctor about the gender of the baby and he said that it was 90% boy. Yeay! We were so excited!! ^_^

So we started to find a baby boy name that starts with letter M. We had several choices. It was strange that this time we did not have lots of difficulty to find a good baby boy name. On my first pregnancy it was sooo difficult to find a good baby boy name that starts with letter M, but this time it was difficult to find a baby girl name that starts with letter M. This time we decided to give a more “Indonesian” name for our baby boy because with Myesha, we already gave her an “international” name. So we search either from traditional Javanese name or from Sanskrit origin. After long search, long discussions and long thoughts, we decided to give name to our baby boy “Mahesya” because it rhymes with “Myesha”. Hahahaha... Mahesya is originally come from the word “Mahesh”. Mahesh in Sanskrit/Hindi means “great ruler”. I would say it as a “great leader”.

Mahesya, the thinker baby... :p
After choosing the first name, we also decided to make our second child's initials same as Myesha, M.A.A., because Myesha's name is Myesha Amelie Adele. This part is the hardest one. Hahahaha...

On December 2011, Danang went to watch FIFA Club World Cup semifinals F.C. Barcelona vs Al Saad in Yokohama Stadion with his friend. Danang is a big fan of F.C. Barcelona. If you also a fan of soccer, maybe you know Barcelona's young player, Thiago Alcantara [http://en.wikipedia.org/wiki/Thiago_Alc%C3%A2ntara]. He currently plays as central midfielder in F.C. Barcelona and he is one of the most talented young players in his generation. So, Danang wanted to give “Alcantara” as the second or third name of Mahesya. But first we had to find the origin and the meaning of “Alcantara”.

After googling it, we found “Alcantara family crest & history” [http://www.houseofnames.com/alcantara-family-crest]. It says that the Alcantara surname derived from the place name Alcantara on the Tagus river in the province of Caceres, Extremadura, Spain. Alcantara derived from the arabic word “qantara” which means “bridge” with the definite article “al”. The bridge in question was built about the year 105 by the Romans and the village was named for the bridge by the Moors. The bridge Alcantara is still standing today.

After knowing the meaning of the word Alcantara, Danang suddenly just had the idea to give the whole meaning of Mahesya's name as “great leader who is able to connect knowledge (with the world)”. In Indonesian is “Pemimpin yang menjembatani Ilmu”. ^_^

So, finally, we had to find a word that means “knowledge” to complete the puzzle. After searching and searching, we found that the word “Abbi”, originally from Javanese, means “knowledge” (in Indonesian is ilmu/pengetahuan). Yeay!! That's it!! We got our second M.A.A in our family!! Hahaha.. :D

excited to meet little brother... :D
Now we just have to find a nickname for Mahesya, because calling him “Mahesya” makes us confused since it's similar to “Myesha”, most of the time we made mistake calling “Mahesya” with “Myesha”... hahahaha... Until this moment we couldn't find the perfect nickname. Some of our friends and family gave us some ideas such as “Asya”, “Mabi”, “Esya”. I was thinking about “Alqa” but Danang said that “Matcha” would be unique because “matcha” means “green tea” in Japanese, since Mahesya is born in Japan. :p So, what do you think? Can you give us more ideas? Please leave your comment & let us know... :D


2012/01/31

My Pregnancy in Japan: Persiapan Persalinan Part.2

My 36 weeks belly! :D
Setelah melihat-lihat ruangan persalinan, Tagawa-san menjelaskan tentang fasilitas lain yang ada di Shounan Atsugi Hospital. Tagawa-san mengatakan bahwa di Shounan Atsugi tidak tersedia Neonatal Intensive Care Unit (NICU) atau ICU khusus bayi, jadi jika terjadi sesuatu pada bayi yang baru lahir biasanya ditransfer ke rumah sakit lain yang terdekat. Lalu Shounan Atsugi adalah rumah sakit yang sudah terdaftar dalam The Japan Obstetric Compensation System for Cerebral Palsy, jadi kalau misalnya ada bayi yang mengalami cerebral palsy maka seluruh pengobatannya akan ditanggung oleh pemerintah Jepang. Oleh karena itu juga kita disuruh untuk mengisi formulir untuk sistem tersebut. Semoga saja nanti saya tidak akan membutuhkan NICU atau formulir cerebral palsy tersebut.

Setelah itu, kita membahas tentang persiapan dan kapan harus menelepon atau datang ke rumah sakit. Tagawa-san pertama2 menanyakan tentang riwayat persalinan saya yang pertama, misalnya seperti saat melahirkan Mye, berapa lama waktu dari awal kontraksi sampai saya melahirkan. Saya menceritakan bahwa dari kontraksi yang setiap 10 menit hingga setiap 3 menit waktu itu memakan waktu sekitar 3 jam, dan saat kontraksi setiap 3 menit itu saya sudah pembukaan 7cm, lalu dari pembukaan 7cm sampai melahirkan saya menghabiskan waktu 2,5 jam. Jadi total seluruhnya 5,5 jam. Saya juga mengatakan bahwa untuk mengejan saya hanya membutuhkan waktu 7 menit dengan 4 kali mengejan. Katanya sih biasanya untuk mendorong bayi keluar (saat mengejan) bisa memakan waktu 20 menit sampai 1 jam. Tagawa-san mengatakan kalau itu sangat cepat untuk ukuran baru melahirkan pertama kali dan untuk kedua kali ini sepertinya saya akan membutuhkan waktu lebih cepat lagi. Awalnya Tagawa-san mengatakan kalau saya harus menelepon ke rumah sakit saat saya kontraksi setiap 10 menit, tapi setelah ditimbang2 dia berpikir kalau mungkin sebaiknya saya menelepon saat saya kontraksi setiap 15 menit, takut2 nanti waktu dari kontraksi setiap 15 menit ke 10 menit lalu ke 3 menit akan cepat dan saya keburu melahirkan di jalan. Hahahaha... Padahal kayanya kalau di Belanda mungkin bakal lebih deg2an karena kita baru diperbolehkan datang ke rumah sakit jika sudah pembukaan 6cm. :p

Tagawa-san menjelaskan apa saja yang perlu dibicarakan di telepon, apa saja yang akan ditanyakan dan apa saja yang perlu dikatakan. Tentu saja nanti pas saya telepon ke rumah sakit, kemungkinan besar (kayanya sih bukan kemungkinan besar tapi yakin... :p) saya tidak akan berbicara dengan seseorang yang bisa bahasa inggris, jadi Tagawa-san mengatakan sebisa mungkin saya bicara dalam bahasa jepang. Maka itu Tagawa-san menjelaskan kepada saya apa saja yang perlu saya katakan di telepon agar saya bisa antisipasi dan mungkin bisa mempersiapkan kalimat2nya nanti. Yah, pastinya akhirnya saya membutuhkan translate dari teman jepang saya untuk kalimat2 tersebut. Semoga pada saatnya nanti saya tidak panik dan tidak blank jadi saya bisa menggunakan kalimat2 tersebut dan saya bisa mengerti sedikit apa yang dikatakan bidan di telepon nanti. 

Selain harus berbicara di telepon dengan pihak rumah sakit, pastinya kita juga harus telepon taksi untuk pergi ke rumah sakit. Jadilah saya juga harus mempersiapkan kalimat2 jepang untuk menelepon taksi. Haduh haduh.. ini kayanya saya bakal lebih deg2an untuk hal telepon-meneleponnya dibandingkan untuk melahirkannya deh... Hahahahaha...

Tagawa-san juga menjelaskan prosedur yang akan dilakukan saat persalinan nanti. Saat persalinan nanti yang akan membantu persalinan hanya bidan, jadi dokter mungkin akan datang jika terjadi situasi yang darurat saja. Prosedur lain yang dilakukan Shounan Atsugi adalah tidak menggunakan epidural dan tidak melakukan episiotomy (pengguntingan untuk memudahkan persalinan), jadi mereka benar2 melakukan persalinan alami, sama seperti di Belanda. Oh, by the way,  persalinan normal (vaginal birth) dengan persalinan alami (natural birth) itu ternyata berbeda loh. Saya juga baru tahu dari sebuah referensi di internet. Jadi kita bisa saja melakukan persalinan normal, tapi mungkin ada yang menggunakan prosedur2 seperti penggunaan epidural atau melakukan episiotomy. Tapi kalau persalinan alami adalah persalinan normal yang dilakukan tanpa adanya intervensi atau penggunaan prosedur2 seperti penggunaan epidural atau episiotomy. Di Shounan Atsugi juga akan melakukan operasi caesar hanya jika terjadi keadaan darurat, jadi tidak seperti di Indonesia mungkin disaat2 terakhir kita bisa memilih minta di operasi caesar saja supaya lebih mudah. Jika usia kandungan sudah melebihi 41 minggu maka mereka akan melakukan prosedur perangsangan dengan induksi. 

Umumnya setelah melahirkan kita akan menginap di rumah sakit untuk 5 hari. Karena buat saya sepertinya 5 hari kelamaan dan mungkin membosankan, Tagawa-san mengatakan bisa saja saya pulang di hari ke 3 atau ke 4 jika kondisi saya dan bayi sehat tanpa masalah apapun. Tapi yang menjadi sedikit masalah adalah di hari ke 5 sang bayi akan diambil darahnya dari bagian tumit untuk di test tentang kemungkinan adanya penyakit bawaan atau keadaan kesehatan lainnya yang mungkin akan timbul saat dewasa nanti. Hal ini juga memang dilakukan di Belanda dan saya ingat memang dilakukan pada hari ke 5 juga. Tagawa-san lalu memberikan pilihan kalau saya bisa pulang di hari ke 4 dan saya bisa melakukan pengambilan darah bayi di hari ke 4, daripada misalnya saya pulang di hari ke 3 tapi lalu saya harus balik ke rumah sakit di hari ke 5 untuk pengambilan darah. Hmmm... dari sekarang jadi harus mikir deh enaknya gimana ya... @_@

Untuk beberapa prosedur pasca melahirkan seperti pengambilan darah pada tumit bayi, pemberian vitamin K untuk bayi dan pemberian obat tetes mata anti-virus untuk bayi dan bahkan untuk memandikan bayi pada hari ke 3 saja kita harus menandatangi formulir persetujuan yang sudah disediakan dalam bundelan tebal yang bersamaan dengan birth plan. Saya menceritakan kalau di Belanda biasanya bayi diberikan vitamin K tetes sejak usia 8 hari hingga 3 bulan, sedangkan di Jepang diberikan hanya 3 kali selama 2 minggu pertama kehidupan bayi. Tagawa-san agak kaget dan malah jadi berpikir "apa di Jepang perlu seperti itu juga ya?"... Hahahaha... Saya juga bilang di Belanda bayi usia 8 hari hingga 1 tahun diberikan vitamin D tetes setiap hari, tapi sayang saya tidak menemukan vitamin D tetes di Jepang. Saat Mye dibawa pulang ke Indonesia pun waktu itu kita sampai membawa beberapa botol vitamin D tetes dari Belanda. :)

Pihak rumah sakit juga memberikan sebuah tas bingkisan yang besar berisi perlengkapan pasca melahirkan, misalnya seperti pembalut wanita, tissue basah, dan barang2 personal untuk menginap di rumah sakit seperti sandal, sikat gigi, tissue, dsb, bahkan ada underwear juga. Wah ternyata sama kaya di Belanda ya kita dikasih kraampakket (paket persalinan) yang dikirimkan ke rumah dari pihak asuransi, walaupun yang di Jepang kayanya lebih lengkap. Tapi untuk pakaian sehari2 dan perlengkapan pribadi selama di rumah sakit kita tetap harus membawa dari rumah. Untuk pakaian bayi sih sudah disediakan dari rumah sakit, paling kita hanya membawa satu baju yang akan dipakai bayi untuk pulang. 

Kekhawatiran lain yang ada dipikiran saya adalah Mye. Walaupun nanti ibu saya akan ada disini untuk membantu mengurus Mye tapi kita kan tidak akan tahu apakah nanti Mye bisa anteng dengan nini-nya. Atau apakah nanti Mye mau anteng seharian dengan ayahnya. Karena memang sehari2, ya bisa dibilang hampir 24 jam Mye selalu sama saya saja. Kalau saya tinggal mungkin beberapa jam saat weekend karena saya jalan2 untuk belanja saja kadang2 Mye agak susah makan dengan ayahnya. Ya selain Mye makannya memang lama, tapi dengan tidak adanya saya bisa lebih lama lagi. Lalu kalau tidur malam juga biasanya Mye nempel sama saya, kalaupun tidak nempel kadang di tengah malam dia bisa terbangun lalu pindah tempat dekat saya. Hahaha... Kira2 kalau saya tidak ada gimana ya? @_@  Well, setidaknya Mye saat kita bincang2 dengan Tagawa-san yang memakan waktu hingga 1,5 jam, dia bisa tenang dan anteng, cuma modal dikasih kertas dan bolpen untuk corat-coret. Meskipun saat 20 menit terakhir dia mulai nempel2 di saya atau ke ayahnya karena ngantuk. Hahaha... 

Well, so far, 36 minggu saya tidak mengalami bengkak2 di daerah kaki dan jari2 tangan. Pas hamil pertama dulu kayanya hamil 5 bulan saja saya sudah lepas cincin kawin karena sudah tidak nyaman dipakai. Lalu pada usia kandungan 7 bulan saya terpaksa membeli boots baru karena boots lama saya tidak muat karena kaki suka bengkak, terutama setelah jalan2. Sepertinya melakukan olahraga 3-4 kali seminggu memang membantu tubuh kita yang sedang hamil supaya tidak mengalami bengkak2, karena dengan olahraga kan aliran darah dalam tubuh menjadi lancar. Tapi satu yang tidak bisa dihindari adalah keram kaki!! Uuugghhh.... kalau saya ngulet dikit saja, kalau tidak hati2 kaki saya bisa keram, kadang2 malah bisa keram dua-duanya. ~_~"

Oh iya, hampir lupa cerita soal hasil test GBS yang dilakukan 2 minggu lalu. Alhamdulillah saat  pemeriksaan dokter hari ini hasil test GBS saya negatif, jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan dan saya tidak perlu disuntikkan antibiotik saat proses persalinan nanti. Yeay! :D  Setidaknya satu kekhawatiran bisa dihilangkan. Hehehe...  Mulai minggu ke 33 kita juga lebih sering di test anemia oleh bidan, sepertinya hampir setiap 2 minggu saya di test anemia. Lalu mulai minggu ke 37, setiap check up kita juga check up dalam alias check up vagina. Kayanya mereka benar2 hati2 dan teliti dalam memeriksa, atau... "terlalu" parno? :p

Tinggal menghitung hari nih!! Semangaaaattt... ^_^





2012/01/24

My Pregnancy in Japan: Persiapan Persalinan Part.1

Tidak terasa sekarang usia kandungan sudah 36 minggu, berarti insya Allah tinggal 4 minggu lagiiiii... ^_^  Segala perlengkapan buat bayi sepertinya sih sudah siap semua. Sebenernya saya malah untuk anak kedua agak bingung harus sedia apa lagi ya? Hahaha.. soalnya perasaan beberapa perlengkapan masih ada dari bekas Mye, jadi ada beberapa barang yang tidak perlu beli lagi.

32 weeks belly... in this picture it doesn't look like my belly is big, but actually is big.. hahaha...
Persiapan untuk ibu saya datang ke Jepang juga insya Allah sudah siap. Alhamdulillah untuk apply visa ke Jepang tidak sulit dan semua selesai dalam waktu yang cukup singkat. Saya juga nitip beberapa baju bekas Mye yang ada di Indonesia untuk dibawakan ke sini. Terutama sih baju2 bayi Mye yang tebal dan hangat yang dulu sempat dipakai pas di Belanda karena disini sekarang masih dingin udaranya. Hari ini bahkan turun salju tapi sayang saljunya yang tipe cepat cair jadi tidak numpuk di darat deh. :'(

Selain itu saya juga nitip beberapa baju menyusui, korset untuk pasca melahirkan, jamu habis bersalin, minyak telon, minyak kayu putih dan beberapa perlengkapan bayi lainnya yang tidak ada di Jepang. Saya membeli beberapa baju menyusui dan korset yang khusus untuk pasca melahirkan dari toko online di Indonesia. Kenapa gak beli aja di Jepang? Satu karena baju menyusui di Jepang hargenyeee aduhaaiii mahal. Mungkin bisa 2 atau 3 kali lipat daripada baju2 menyusui yang di jual di toko online Indonesia atapun di ITC. Kedua karena model baju menyusui di Indonesia menurut saya lebih bagus dan variatif juga colourful dibanding di Jepang yang cenderung monoton dengan warna2 atau motif2 yang kurang asik. Jadi kalau saya bisa dapat yang model lebih bagus dengan harga lebih murah di Indonesia dan saya bisa minta tolong bawakan, lebih baik kan? Hehehe... Lalu soal korset sih satu karena yang di Indonesia lebih murah dan modelnya lebih lebar. Lebar dalam artian bisa menutupi seluruh perut. Di Jepang juga banyak korset2 pasca melahirkan, dibandingkan dengan di Belanda yang kayanya tidak ada, paling2 di Belanda adanya korset biasa untuk yang bukan khusus pasca melahirkan. Selain itu harga korset di Jepang juga bisa 3 kali lipat lebih mahal daripada korset di Indonesia dan satu lagi adalah ukurannya kecil2!! Duh kalau buat badan saya yang gajah ini kayanya gak muat deh... Hihihi... Kalaupun muat mungkin terlalu ketat dan membuat saya tidak bisa bernapas. Hahahaha...

Sejauh ini memasuki minggu ke 36 berat badan naiknya 10 kg. Sepertinya masih batas aman. Bahkan sang bidan bilang kalau saya berhasil bisa mengendalikan diri... Hahahaha... Tapi bidan juga cukup kaget saat saya katakan saya melakukan pilates 4 kali seminggu, mungkin dia tidak pernah mendengar ada pasiennya yang segitunya berolahraga saat hamil. Hihihi... Tapi memasuki minggu ke 36 ini melakukan gerakan2 pilates sangatlah sulit. Terutama saat harus melakukan core pilates atau pilates untuk daerah perut, pinggang & punggung yang mana gerakannya lebih banyak sit up dengan bantuan bantal yang tinggi. Takut2 kalau saya malah jadi sakit pinggang, saya sekarang menghindari core pilates. Bahkan untuk tiduran biasa telentang saja saya tidak bisa lama2, rasanya tulang belakang sakit karena tertekan oleh bayi. Jadi untuk minggu terakhir ini saya hanya melakukan standing pilates, pilates for flexibility dan ditambah dengan latihan angkat beban saja untuk melatih otot lengan dan punggung agar tetap kencang. Tapi tidak lupa ditutup dengan yoga 10 menit untuk relaksasi... ^_^

Dua minggu yang lalu, pada minggu ke 33 saya melakukan check up rutin. Sejak setelah minggu ke 26, di Jepang pemeriksaan rutinnya menjadi setiap 2 minggu, berbeda dengan di Belanda biasanya dari setiap 4 minggu menjadi setiap 3 minggu. Pada minggu ke 33 dokter melakukan yang namanya test GBS (Group B Streptococcus).  Di Jepang, test ini umumnya dilakukan di minggu ke 33 atau 34, tapi kalau yang saya baca dari referensi di Amerika dilakukan pada minggu ke 35-37. Saya agak heran juga kenapa dilakukan test ini dan saya juga belum pernah dengar dan di Belanda pun tidak dilakukan test ini. Sayapun menanyakan detail tentang test ini kepada sang dokter dan ternyata sudah umum dilakukan di Jepang. Jadi GBS adalah sejenis bakteri yang biasanya menghuni saluran pencernaan, tapi bakteri ini juga bisa ada di dalam saluran vagina dan daerah sekitarnya. GBS tidaklah berbahaya bagi orang dewasa tapi bisa membahayakan bayi. Saat hamilpun, jika kita terkena GBS tidak akan membahayakan janin, tapi yang berbahaya adalah saat melahirkan karena bayi akan melalui saluran vagina. Jika saluran vagina kita terinfeksi GBS maka sang bayi kemungkinan untuk tertular. Gejala biasanya akan timbul pada minggu pertama kehidupan bayi, umumnya muncul di 24 jam pertama kehidupan bayi. Meskipun hanya terjadi pada 0.35 kasus per 1000 kelahiran hidup, infeksi GBS bisa menimbulkan penyakit seperti sepsis (infeksi pada darah), pneumonia dan meningitis (yang ini biasanya jarang). Jika bayi terkena meningitis maka dalam jangka panjangnya bayi akan mengalami kehilangan penglihatan atau pendengaran, cerebral palsy atau gangguan perkembangan lainnya, dan sekitar 5% dari penderita biasanya tidak bertahan hidup. Wow, saya sendiri kaget bisa seperti itu ya. Lalu bagaimana kalau kita terinfeksi GBS? Nah jika hasil test menunjukkan positif terkena infeksi GBS maka saat kita sedang kontraksi, atau sebelum melahirkan, maka kita akan disuntikkan antibiotik untuk mencegah penularan GBS kepada bayi. Fiuh! Ternyata ada pencegahannya. Jadi lebih baik mencegah daripada mengobati kan. :) 

Hari ini adalah hari check up ke dokter dan tidak seperti hari check up yang biasa, sebelum saya bertemu dengan dokter, saya harus bertemu dan berbincang2 panjang lebar tentang persiapan persalinan dengan bidan. Dua minggu sebelumnya, saat check up yang lalu, bidan sudah membuat janji dengan kami untuk menjelaskan tentang prosedur persalinan dan segala persiapannya. Tentu saja saya harus bertemu dengan bidan yang berbahasa inggris, jadi saya bertemu lagi dengan bidan Mariko Tagawa. Saya salut sekali dengan pelayanan Shounan Atsugi Hospital yang secara profesional melayani saya sebagai orang asing dan saya merasa jadi spesial karena ada satu bidan yang in charge melayani saya dalam bahasa inggris. Saya tidak tahu bagaimana jadinya kalau saya memilih rumah sakit lain apakah akan mendapatkan pelayanan yang sama atau mereka cuek saja saya tidak mengerti bahasa Jepang. Menjelaskan tentang prosedur persalinan dalam bahasa inggris bagi Tagawa-san bukanlah hal yang mudah. Maka itu dia harus membuat janji dengan saya 2 minggu sebelumnya karena dia harus menyiapkan segala referensi dan mempersiapkan/memilih bahasa atau kata2 yang tepat dan jelas untuk saya supaya saya dan suami saya tidak salah paham.

Jadi saat kami datang hari ini ke rumah sakit, Tagawa-san sudah siap dengan segala kertas2nya yang berisi "contekan" bahasa inggris tentang apa saja yang dia perlu tanyakan dan jelaskan kepada saya. Dia juga menyediakan kamus digital in case ada kata2 yang dia tidak bisa jelaskan. Kami dibawa ke ruang private, jadi kita bisa nyaman dan bebas untuk ngobrol. Pertama yang ditanyakan Tagawa-san adalah birth plan yang sudah saya tulis. Jadi pada awal kehamilan, kira2 saat memasuki bulan ke 3, rumah sakit memberi bundelan berupa beberapa form2 yang harus di isi, nah salah satunya adalah birth plan. Kayanya saya sudah cerita tentang bundelan ini di bagian lain My Pregnancy in Japan: Trimester Pertama. Nah kali ini Tagawa-san ingin memastikan apa yang saya inginkan. Pada birth plan saya awalnya mengatakan kalau ingin melahirkan di tempat tidur, karena di Shounan Atsugi biasanya melakukan persalinan diatas tatami. Lalu Tagawa-san menawarkan untuk melihat ruangan dengan tempat tidur dan ruangan tatami. Setelah saya lihat, ternyata ruangan tatami menarik sekali. Saya jadi "tertantang" untuk melahirkan di atas futon dan tatami. Hahaha... Walaupun ruangan bertempat tidur sepertinya lebih luas dibanding ruang tatami, tapi mungkin pengalaman melahirkan diatas futon dan tatami akan menjadi cerita yang menarik. Jadi saya mengatakan kepada Tagawa-san kalau saya mau mencoba ruang tatami, walaupun kata Tagawa-san sih kalau kita berubah pikiran lagi disaat2 terakhir kita boleh koq pindah ruangan.


TO BE CONTINUED... ^_^



2011/12/02

Foremilk & Hindmilk dalam ASI

Seneng banget minggu lalu saat buka facebook, teman saya posting soal foremilk dan hindmilk yang terdapat dalam ASI. Sudah lama saya cari2 penjelasan soal foremilk dan hindmilk dalam bahasa Indonesia tapi tidak menemukan yang bagus. Saya awalnya mengetahui foremilk dan hindmilk dalam ASI saat kehamilan pertama saya dari cerita teman saya di Belanda. Saat itu dia baru saja melahirkan di Belanda dan kita yang ibu2 muda sedang berkunjung untuk melihat bayinya. Dia share cerita soal cara menyusui yang baik dan benar, informasi seputar ASI dan hal2 seputar bayi & segala keindahan yang dialaminya. Terutama sih dia share cerita tentang pengetahuan yang dia dapat dari kraamzorg-nya. Cerita tentang kraamzorg teman2 bisa baca di bagian "My Experience Having a Baby in The Netherlands: Bag. 4 Belajar dari Kraamzorg". Saya juga sudah pernah menyinggung sedikit soal foremilk dan hindmilk dalam ASI dalam cerita tersebut, tapi informasinya memang minim sekali. Saya juga membaca sedikit soal foremilk dan hindmilk dari buku panduan Ibu dan Bayi yang dikeluarkan oleh pemerintah Belanda. Nah sekarang saya mau share tentang detailnya yang saya ambil dari hasil share teman saya dan juga dari pengalaman yang saya dapat. :)

Jadi selain istilah kolostrum dalam ASI yang sudah lebih dulu terkenal, ada juga yang namanya foremilk dan hindmilk. Mungkin masih banyak yang tidak familier dengan kedua istilah terakhir. Kalau kolostrum pasti teman2 tahu kalau itu adalah cairan susu yang pertama kali keluar yang biasanya berwarna kekuningan dan agak kental.

Foremilk adalah ASI awal yang keluar setiap kali bayi menyusui. Biasanya encer dan memiliki kandungan lemak yang lebih rendah, juga mengandung protein, karbohidrat dan vitamin. Foremilk akan menghilangkan rasa haus dan kebutuhan cairan sang bayi.

Hindmilk adalah ASI yang keluar setelah beberapa menit saat sang bayi menghisap ASI. Hindmilk mengandung lebih banyak lemak dan kalori yang dibutuhkan bayi untuk menambah berat badan, memiliki lebih banyak nutrisi penting untuk pertumbuhan dan memenuhi rasa lapar sang bayi. Penampakan hindmilk akan lebih kental, lebih putih dan cerah.

Penting untuk bayi untuk menerima foremilk dan hindmilk secara seimbang supaya nutrisi yang didapat lengkap. Salah satu cara yang bisa dilakukan agar sang buah hati bisa mendapat foremilk dan hindmilk yang seimbang adalah dengan menyusui dengan satu payudara hingga kosong (sekitar 15-20 menit) kemudian dilanjutkan dengan payudara yang sebelahnya untuk beberapa menit atau dengan jumlah waktu yang sama dengan payudara sebelumnya. Hal ini dilakukan supaya bayi bisa menghisap seluruh foremilk dan hindmilk. Berdasarkan yang diajarkan ke saya oleh bidan Belanda sih memang setiap menyusui satu payudara itu memang harusnya sekitar 15 menit baru berganti ke payudara lain dengan jumlah waktu yang sama.

Kemudian tips lain supaya bayi bisa mendapat foremilk dan hindmilk secara seimbang bisa dengan cara, misalnya, sekarang kita pertama menyusui dengan payudara kiri lalu dilanjutkan dengan payudara kanan, maka untuk saat menyusui selanjutnya dimulai dengan payudara kanan terlebih dahulu baru dilanjutkan dengan yang kiri. Begitu seterusnya. Hal ini karena pada payudara terakhir yang kita berikan pada bayi saat menyusui masih mengandung hindmilk. Mungkin karena pada payudara terakhir yang kita berikan kepada bayi payudara kita tidak sampai kosong, tidak seperti pada payudara pertama yang kita berikan. Kalau dulu saya supaya tidak lupa saya suka mencatat payudara mana yang terakhir saya berikan untuk menyusui supaya berikutnya tidak tertukar. Tapi kalau kita bisa mengingat dengan baik sih tidak dicatat tidak masalah. 

cyh.com

Saya sendiri baru tahu kalau bayi bisa mengalami yang namanya ketidakseimbangan foremilk dan hindmilk. Gejala bayi yang mengalami ketidakseimbangan foremilk dan hindmilk antara lain: 

1. Pup setiap kali menyusu
2. Gumoh
3. Pup berwarna hijau
4. Pup mengandung darah
5. Selalu ingin menyusu, terlihat tidak puas
6. Sering buang gas
7. Berat badan naiknya sedikit
8. Ruam popok karena pupnya asam

Alhamdulillah saat Mye menyusui tidak mengalami gejala2 tersebut, tapi mungkin kalau bayi teman2 mengalami gejala2 tersebut teman2 harus mengingat2 kebiasaan teman2 menyusui bagaimana. Apakah hanya sebentar-sebentar saat menyusui pada satu payudara? Atau mungkin produksi ASI teman2 terlalu banyak sehingga sang buah hati tidak sampai menghisap hindmilk karena foremilknya terlalu banyak. Atau sang bayi tertidur saat diberi ASI?

Yang teman2 bisa lakukan antara lain adalah pastikan kalau teman2 menyusui antara 15-20 menit. Kalau produksi ASI terlalu banyak, jangan malas untuk memerah ASI dan menyimpannya. Kalau bayi tertidur saat baru menyusui, pastikan berikan "gangguan" pada bayi saat menyusui agar tidak tertidur, mungkin dengan "mencolek2" pipinya saat menyusui... :) Lalu setelah selesai menyusui satu payudara ganti popoknya. Walaupun bukan saatnya untuk mengganti, tapi coba di taro di tempat ganti popok lalu buka popoknya, di lap2 sedikit dan pasangkan popoknya lagi, hal ini dilakukan supaya sang bayi terbangun & seger lagi. :)

Jadi ingat loh, menyusui memang membutuhkan waktu, maka itu kalau teman2 sedang menyusui di nursery room di mall2 tidak perlu buru2, take your time and enjoy it,  toh kalau bayi kita kenyang kita pun jalan2 dengan lebih tenang. Dan buat teman2 lainnya yang mungkin mengantri untuk menyusui, sabar2 menunggu ya, jangan lantas marah2 & "ngedumel" kalau ada yang sedang menyusui dan menyusuinya lama. Saya ingat pas sedang menyusui di salah satu mall di daerah Jakarta Utara, karena tempat ganti popok dan menyusuinya sempit hanya muat satu orang, eh yang antri di belakang saya marah2, padahal menyusui kan butuh waktu. Semoga informasi tadi berguna buat teman2 dan semoga juga bisa memberi semangat lebih lagi buat teman2 yang sedang menyusui saat ini juga untuk calon ibu yang akan menyusui bayinya. :D




2011/11/29

My Pregnancy in Japan: Edisi Curhat :p

7 months belly... :)
Setiap orang yang hamil mengalami pengalaman yang berbeda2, kondisi yang berbeda2 dan cerita yang berbeda2. Kebanyakan perempuan pasti di awal hamil mengalami yang namanya mual2, muntah2, ada juga yang mual & muntah selama sepanjang kehamilan. Kalau saya bahkan tidak tahu bagaimana rasanya mual & muntah selama hamil. Tapi rasa tidak nafsu makan selama trimester pertama sih iya. Untuk kehamilan kali ini selama trimester pertama malah muka saya jerawatan kecil2, mungkin karena perubahan hormon dalam tubuh saya. Padahal pas hamil dengan Mye saya tidak jerawatan. Untungnya sang jerawat kecil2 dan tidak terlalu mengganggu penampilan, tapi kadang suka gatal juga. Duh bingung deh pokoknya, saya jadi tidak bisa berdandan. Akhirnya saya pakai serum vitamin C untuk wajah dan ternyata lumayan mujarab. Selain itu saat trimester pertama kan sedang summer dan summer disini cukup panas & matahari cukup terik, jadi yang namanya pelembab tidak bisa ditiadakan, tapi saya harus pilih yang tidak bikin tambah jerawat. 

Selama kehamilan kedua ini juga sepertinya daya tahan tubuh saya tidak seperti saat kehamilan pertama. Dalam artian, dari segi fisik luar sih saya masih seperti orang tidak hamil, tetap aktif & "gagah" tapi dari segi kekebalan tubuh sepertinya payah banget. Selama hamil ini saya sudah 3 kali terkena flu dan batuk. Untuk yang pertama dan kedua lumayan parah, tapi untuk yang ketiga ini alhamdulillah tidak terlalu parah. Saya juga takut mengkonsumsi obat2an, walaupun dokter kandungan saya sih kasih resep, tapi dia pun mengatakan kalau memang tidak parah tidak diminum juga tidak apa2. Saat flu & batuk yang pertama saya tidak minum obat sama sekali, saya hanya minum permen pelega tenggorokan saja dan alhamdulillah sembuh. Saat flu & batuk kedua, saya lumayan tidak tahan dengan batuknya jadi saya minta diresepkan obat dan saya minum. Obatnya berbentuk pil keciiiillll sekali, tapi manjur, alhamdulillah. :)  Untuk flu dan batuk yang ketiga kali saya diresepkan obat batuk yang sama dan saya makan permen jahe & permen pelega tenggorokan juga untuk membantu pemulihan.

Tapi yang paling parah sakitnya saat hamil kedua ini adalah: alergi!!!! OMG!!! Saya mengalami gatal2 yang parah disekujur punggung, dada, payudara, leher dan dagu, bahkan sampai bibir pun gatal2!!! Di sekujur punggung, dada, sedikit dibagian leher, dagu dan payudara ada bintik2 merah seperti biang keringat. Bentuknya jadi kaya bruntusan merah2 gitu dan gatal sekali terutama kalau sudah malam hari. Kadang gatal2 juga dibagian paha dan kaki tapi tidak separah yang di punggung, dada, leher & payudara. Duh! Pokoknya saya sampai tidak bisa tidur! Kalaupun sudah tertidur nanti setelah beberapa jam saya akan terbangun karena gatal2. Ya ampun.... Dokter bilang mungkin karena perubahan hormon dalam tubuh atau mungkin karena perubahan cuaca yang ekstrem karena sekarang udara tiba2 jadi dingin sekali. Winter kali ini memang datang terlambat tapi pas datang tiba2 dingiiiinnnn banget. Dulu saya juga mengalami gatal2 saat hamil Mye tapi hanya dibagian perut bagian atas dan sedikit di kaki, munculnya pun sekitar 1 bulan sebelum melahirkan. Bentuknya sama dengan yang sekarang, bruntusan merah2. Waktu itu saya cuma kasih baby lotion Zwitsal yang mengandung zinc dan cukup manjur. Kali ini dokter meresepkan saya salep. Salepnya cukup manjur juga, tapi selain itu saya juga beli lotion aloe vera dan membeli sabun mandi yang non-soap formula. Gel/lotion aloe vera memang membantu juga mengurangi gatal2 karena bikin "adem". Dan katanya kalau lagi gatal2 kita sebaiknya mandi dengan sabun yang super duper lembut, mungkin dengan sabun aloe vera juga, atau baby soap atau sabun yang non-soap formula, tapi jangan menggunakan body scrub. Selain itu salep dari dokter cuma berbentuk tube kecil, mana cukup buat sekujur punggung dan dada saya... :(  Sekarang rasa gatalnya sudah berkurang banyak dan saya sudah bisa tidur lumayan nyenyak lagi. Walaupun kadang2 terbangung juga di malam hari karena posisi tidur kurang enak, maklum kalau perut sudah besar mau tidur dengan posisi macem2 memang pasti ribet... hahaha... Ditambah Mye terkadang bangun juga malam2, alhamdulillah sekarang sih kalau bangun tidak nangis, tapi malah minta dinyanyikan lagu nina bobo andalannya. Hahaha.. Hayyaaahhhh bunda-nya lagi ngantuk berat koq disuruh nyanyi. Hahaha... 

Sebelum masalah2 kesehatan & alergi ini kita sudah lebih dulu mengalami "gangguan tidur" tapi bukan saya ataupun suami, tapi Mye. Jadi setiap tidur malam, satu atau dua jam setelah tidur malam itu Mye pasti terbangun dari tidurnya dan nangis kejer tidak jelas. Dikasih susu tidak mau, di gendong juga suka tidak mau, pokoknya diapa2in juga tidak mau. Kalau di gendong keluar kamar juga malah tambah parah. Nangisnya bisa awet sampai 1 jam. Nanti kalau dia sudah 1 jam nangis & capek ya tidur lagi. Tapi kan kalau setiap malam kita harus seperti itu ya lama2 remuk juga badan kita. Tidak kebayang kalau saya sudah hamil besar atau kalau nanti adenya Mye sudah lahir dan Mye seperti itu terus. Awalnya kadang saya suka diamkan saja kalau dia nangis, kadang berhasil juga dan tidak sampai 1 jam dia tidur lagi. Tapi ada hari2 yang Mye tidak bisa didiamkan.

Akhirnya suami saya browsing di internet soal "gangguan tidur pada balita" dan menemukan kalau ada 5% dari balita mengalami yang namanya "night terror" yaitu dimana balita terbangun setelah 1 atau 2 jam tidur malam dan nangis kejer tidak jelas. Yang parah bisa sampai 1 jam nangisnya, kalau yang biasa saja mungkin cuma 15-20 menit. Wah Mye bisa termasuk yang parah donk ya. Katanya penyebabnya bisa saja karena kecapean, terlalu aktif di siang hari, terlalu banyak nonton TV. Balita yang mengalami night terror juga bisa seperti "tidak sadar" saat terbangun dan nangis itu, jadi dia bisa sambil jalan2 seperti orang "sleepwalker". Memang beberapa kali Mye kadang suka terbangun dan jalan2 muter2 di tempatnya, lalu duduk lagi, tapi dia terlihat tidak sadar dia ada dimana. Lalu kalau balita sedang nangis kejer itu juga memang sebaiknya tidak digendong dan dibawa keluar kamar karena bisa bikin tambah parah nangisnya. Berdasarkan artikel tersebut juga, kalau balita mengalami night terror dan tidak diberi intervensi (disembuhkan/diterapi), ada kemungkinan akan berlanjut sampai besar nanti, mungkin akan seperti sleepwalker.

Jadi berdasarkan sumber artikel itu yang harus dilakukan kita sebagai orang tua adalah membuat "ritual" sebelum tidur. Jadi sekitar 1 atau 2 jam sebelum tidur sang balita didengarkan musik yang lembut mungkin seperti musik klasik atau relaxing jazz. Sebelum tidur juga balita jangan diajak "capek" jadi sebisa mungkin tidak lari2an atau tidak diajak main yang bikin "ngos2an". Satu sampai 2 jam sebelum tidur juga dilarang nonton TV, atau bahkan seharian maksimal hanya nonton TV selama 3 jam. Saat menjelang 1 hingga 2 jam setelah tidur, atau saat kira2 sang balita akan terbangun, kita juga harus siap2 untuk menepuk2 atau mengusap2 punggung sang balita, jadi sebelum balita terbangun kita sudah "siaga". Ritual lainnya yaitu membaca buku sebelum tidur dan setelah itu balita diajak tidur di tempat tidur. Intinya balita diajak untuk "tenang" dan "mengerti" kalau sudah malam dan saatnya tidur. Hari pertama percobaan yang kita lakukan adalah melakukan semua yang dianjurkan dalam artikel itu. Jadi nonton TV hanya 3 jam sehari (disini bunda-nya yang jadi bosan dirumah gak bisa nonton TV... hahahaha... ), didengarkan musik (kita pilih relaxing jazz untuk Mye), lalu Mye saya ajak cuci tangan, cuci kaki & cuci muka juga sikat gigi seperti biasanya lalu setelah itu baca buku cerita, lalu diajak tidur. Malam pertama melakukan ritual ternyata cukup berhasil, Mye tetap terbangun tapi tidak nangis dan tidur lagi. Malam kedua nangis tapi tidak lama. Malam ketiga juga cukup berhasil. Intinya selama beberapa minggu kita "terapi" ada hari2 dimana berhasil tapi ada juga hari2 dimana Mye tetap menangis. Tapi kita tidak putus asa dan terus mencoba. Sekarang kira2 sudah 2 bulan kita terus lakukan ritual2 tersebut dan alhamdulillah Mye sudah tidak terbangun dan nangis kejer lagi. Kadang bahkan kita suka skip beberapa ritual dan Mye sudah tidak mengalami night terror lagi. Sekarang Mye sudah mengerti kalau dia sudah dipakaikan piyama, sikat gigi dan baca sekitar 3 buku kesukaannya, setelah itu dia menarik bantal dan selimut dan minta susu untuk tidur. Kadang Mye tidak langsung tertidur setelah susunya habis, tapi setidaknya dia tetap dibawah selimutnya, paling sambil ngoceh2, nyanyi atau mencoba menghafal huruf dan angka. Alhamdulillah sekarang Mye bisa tidur lebih baik... :D   

me and my lovely Mye at IKEA Shin-Yokohama
Setelah Mye sudah bisa tidur nyenyak di malam hari, eh sekarang malah bunda-nya mengalami susah tidur karena tambah buncitnya perut dan karena terkena alergi.. Hayyyaaahhh... koq jadi tiada akhir ya?? Hahahahaha... Gimana kekebalan tubuh bisa 100% ya kalau kaya gini. Makanya akhirnya saya memutuskan harus rutin olahraga untuk menjaga kebugaran tubuh juga, dan ternyata kalau saya skip pilates selama 2 hari berturut2 membuat badan saya terasa "remuk" dan cepat capek. Kalau weekend saya pasti skip pilates karena weekend adalah saatnya kita jalan2, biasanya kita berangkat pagi pulang sore atau menjelang malam jadi susah mencari waktu untuk pilates. Makanya sebisa mungkin hari jumat saya tidak skip pilates, setidaknya supaya tidak skip pilates 3 hari berturut2.

Semoga setelah ini tidak ada sakit lagi dan tidak ada rasa "remuk" dan cepat capek lagi. Menanti sampai 40 minggu itu memang capek ya tapi merupakan pengalaman yang luar biasa juga merasakan janin dalam perut. Saya selalu senang dengan masa hamil karena perempuan hamil menurut saya sexy, walaupun kalau buat saya membuat saya jadi buleeedddd... Hahaha... Anyway, bagaimanapun merasakan janin dalam perut itu memang pengalaman yang unik, jadi selama 40 minggu itu memang harus bisa dinikmati semaksimal mungkin karena kita kan tidak mungkin hamil terus2an, meskipun banyak tantangan & gangguannya... Hehehe...


2011/11/14

My Pregnancy in Japan: Trimester Kedua

6 months belly... :)
Tidak terasa akhirnya sekarang usia kandungan udah memasuki usia 7 bulan, artinya trimester kedua berakhir!! Banyak banget perubahan selama trimester kedua ini, yang jelas perut tambah buncit dan makin susah melakukan beberapa gerakan. Alhamdulillah sejauh ini 28 minggu (7 bulan), berat badan naik 6 kg, kayanya beda banget dengan kehamilan pertama dimana saya naik 5 kilo dalam 3 bulan... hihihi... Walaupun agak kaget juga 2 minggu terakhir naik 1 kg!! Tp pas dilihat berat badan janin naik 400 gr. Yah lumayan lah daripada kurang dari itu. Hahaha... Lalu apakah saya diet? Tentu saja tidak! Saya tetap makan banyak dan masih banyak makan kue2 & coklat, juga es krim... Haduuhhh saya tidak bisa hidup tanpa yang manis2!! Bisa menggila!! Hahahaha... tapi mungkin karena kegiatan dirumah sangat banyak, ditambah Mye yang aktif banget brantakin barang2 jadi kerjaannya ya beres-beres terus.. :p

Selain melakukan pekerjaan rumah seperti biasanya, misalnya, vacum cleaning, pel, cuci piring, setrika baju, membersihkan kamar mandi & toilet, saya juga berusaha untuk melakukan prenatal pilates seminggu 3-4 kali, kalau lagi tidak terlalu sibuk selama seminggu, saya bisa melakukan pilates 5 kali seminggu. Tentu saja saya tidak bisa melakukan pilates saat weekend karena weekend saatnya jalan2 dengan keluarga. Tapi sering2 olahraganya diganti dengan "membersihkan kamar mandi dan toilet" yang cukup menguras energi sampai bikin ngos2an... Hahaha... Tapi membersihkan kamar mandi & toilet memang hal paling berat dilakukan dengan perut buncit saat ini karena kamar mandi & toilet di rumah sangat minimalis, alias kecil. Apa sih yang gak kecil di Jepang??  :p Jadi kalau bersihkan kamar mandi dan terutama toilet, udah mentok sana-sini. Hahaha...  

Saya memang berniat kalau untuk kehamilan kedua ini akan berbeda dari segi kesehatan. Dalam artian, saya tidak ingin berat badan saya naik secara drastis. Saya ingat saat setelah melahirkan Mye berat badan saya 15 kg lebih berat dari berat sebelum hamil, berarti saat hamil saya mungkin naik lebih dari 15 kg. Setelah 1,5 tahun akhirnya saya bisa kembali ke berat badan sebelum hamil. Saya pikir kalau saya harus menunggu 1,5 tahun setelah melahirkan anak kedua rasanya lama sekali ya... huuhuu... :( Jadi saya bertekad kali ini maximal naik berat badan 10-12 kg, seperti kebanyakan dianjurkan. Lalu saya mengumpulkan seluruh tenaga & pikiran untuk fokus ke tujuan itu dan mengubah pola pikir & pola hidup saya menjadi lebih sehat. Saya memang "memaksakan" diri untuk selalu bisa prenatal pilates 3-4 kali seminggu sejak memasuki usia kandungan 5 bulan, sekali latihan 40 menit, dan juga ditambah 10 menit yoga untuk relaksasi & pernapasan, jadi total 50 menit setiap kali olahraga. Tapi saya tidak mungkin pergi ke tempat senam hamil karena suami saya pulang kerja hingga malam hari dan saya tidak bisa menitipkan anak saya ke teman atau di tempat penitipan anak. Jadi saya mencari2 senam hamil yang aman untuk saya lakukan di rumah dari situs Youtube. Lalu saya menemukan video prenatal pilates yang aman & bisa dilakukan sendiri di rumah. 


Kalau saya baca-baca di artikel-artikel memang sebaiknya pilates selalu dilakukan dengan pengawasan instruktur agar tidak terjadi cedera, tapi sepertinya hal tersebut tidak mungkin untuk saya. Sebelum saya melakukan prenatal pilates yang sekarang saya lakukan, tentu saya baca dulu review dari orang2 apakah mereka merasa nyaman dengan gerakan2 yang diperagakan dan bagaimana reaksi badan mereka setelah melakukan gerakan2 tersebut. Saya sendiri melakukan trial selama seminggu dulu sebelum melakukannya secara rutin. Setelah saya lakukan selama seminggu ternyata memang badan saya terasa lebih enak, tidak mudah capek, bisa tidur lebih nyaman & tidak mudah sakit pungung, jadi saya memutuskan untuk meneruskan latihan tersebut. Tapi untuk melakukan latihan prenatal pilates memang kita juga harus bisa mengukur diri, kalau kita merasa hari itu hari yang melelahkan, sebaiknya jangan dipaksakan dan juga jangan memaksakan gerakan2 yang kira2 tidak bisa dilakukan, walaupun instruktur prenatal pilates di video sedang hamil juga tapi dia sudah terbiasa melakukan pilates dari sejak sebelum hamil, sedangkan kalau saya kan tidak terbiasa. Agak "garing" sih melakukan pilates sendirian dirumah, tapi keuntungan lainnya melakukan pilates dirumah adalah tidak perlu keluar ongkos jalan dan ongkos membayar instruktur atau tempat senam, kita juga lebih flexibel dalam pengaturan waktu latihan. Karena ada hari2 dimana saya bisa di siang hari tapi ada hari lain mungkin saya bisa saat sore hari.


Saya juga mencoba untuk mengurangi asupan karbohidrat, terutama nasi, supaya saya tetap bisa makan yang manis2. Asupan makanan saat hamil memang harusnya lebih banyak dibandingkan saat tidak hamil, tapi berdasarkan yang saya baca, paling kita hanya menambahkan satu kali kudapan diantara makan (jadi tambahannya sekitar 300 kalori per hari). Jadi bukan berarti disetiap kali kita makan kita makan 2 kali porsi biasa dengan alasan "makan untuk berdua". Jadi dalam kehamilan ini TIDAK ADA yang namanya "makan untuk berdua", saya tetap makan dengan porsi biasa tapi saya menambahkan satu kali kudapan mungkin kue2 kesukaan saya, roti gandum bakar, atau apa saja yang kita inginkan. Saya juga berusaha mengkonsumsi banyak sayur dan buah2an. Cara lain untuk membuat badan saya gerak adalah berjalan, terutama berjalan ke supermarket (kaya gak ada tujuan lain aja ya... :p ). Saat trimester pertama saya malas sekali jalan ke supermarket yang berjarak 1 km dari rumah (bolak-balik berarti 2 km), tapi untuk trimester kedua ini saya harus ubah "rasa malas" saya. Hmmm... semoga untuk kehamilan kedua ini saya bisa mewujudkan tujuan saya. (^_^)

Dengan perut tambah besar juga tidak menghalangi saya untuk tetap jalan2. Selama saya makan teratur, minum yang banyak & beristirahat jika sudah merasa capek, perjalanan naik kereta atau bis yang panjang tidak terlalu masalah untuk saya. Saya berprinsip "tidak mau dikasihani" selama saya hamil. Saya tidak mau terlihat lemah & "sakit". Ditambah lagi dengan punya balita, saya tidak bisa sakit, karena kalau saya sakit kasian juga Mye. Pokoknya kehamilan bukan berarti sesuatu yang bikin saya terlihat berbeda dengan saat saya tidak hamil. Kebanyakan orang pun saat bertemu saya rata2 bilang kalau saya tidak terlihat seperti orang hamil karena masih terlihat "gagah" dan aktif. Karena itu saya juga ingin sekali bisa memberi inspirasi buat teman2 saya atau ibu2 lain yang sedang hamil untuk tetap terlihat fit, active & healthy.


Meskipun demikian kerjaan rumah memang jadi tambah "berat" dengan bertambah buncit perut ini. Perasaan koq perutnya lebih buncit dari hamil pertama ya? Katanya sih memang normal begitu karena perut kita sudah keburu melar.. hehehe...Tapi sepertinya memang hamil saat winter itu tidak enak karena saat keluar rumah kita kan harus pakai baju berlapis2, pakai coat, dan aksesoris yang bikin badan kita hangat lainnya. Jadi tambah berat rasanya kalau jalan2. Kalau mau pakai boots juga agak susah karena harus duduk atau setidaknya harus bungkuk sedikit, padahal sudah ada perut buncit yang mengganjal.

Sejak minggu ke 24 (6 bulan) jadwal cek up ke dokter jadi setiap 2 minggu sekali. Agak sedikit berbeda dengan di Belanda, biasanya di Belanda dari setiap 4 minggu sekali berubah jadi 3 minggu sekali, lalu baru setiap 2 minggu sekali. Enaknya disini karena setiap cek up di USG kita jadi bisa juga tahu perkembangan berat badan janin. Jadi kalau misalnya saya naik berapa kilo, lalu bayi naik berapa gram. Jadi bisa tahu seberapa banyak asupan makanan yang masuk ke janin. Ya walaupun kayanya untuk mengatur semua asupan makanan supaya masuk ke janin saja sepertinya hampir tidak mungkin, padahal maunya sih begitu... hahaha... Bidan juga pernah mengingatkan saya supaya setelah memasuki 7 bulan kandungan sebaiknya saya menghindari makanan yang manis2 supaya berat badan saya tidak naik drastis. Tapiiii... bisa gak yaaaa? Mana sudah masuk musim dingin, bawaanya mau makaaaannn teruuusss... Hihihi...

Tidak terasa, tinggal 3 bulan lagiiiii... saatnya merampungkan persiapan baju bayi, perlengkapan bayi & surat2/dokumen2 untuk memboyong ibu ku ke Atsugi... :D




2011/10/26

Suka Anak Kecil vs Anti Anak Kecil

Anak kecil adalah makhluk Tuhan yang paling polos & lugu, juga lucu sekaligus nakal atau jahil. Tentu saja tidak semua manusia di dunia ini menyukai anak kecil. Beberapa waktu lalu saya membaca sebuah artikel tentang memiliki anak dalam keluarga, artikel tersebut saya baca dari website luar negeri, dan saya cukup kaget pas melihat komentar2 dibawah artikel tersebut bahwa banyak sekali pasangan yang memutuskan untuk tidak memiliki anak. Ya, tentu saja hal tersebut sebenarnya banyak terjadi di negara2 barat. Menurut mereka yang tidak ingin memiliki anak, anak adalah sesuatu yang membebankan hidup mereka, mengganggu karir mereka & tidak menyenangkan. Saya sendiri kenal beberapa orang yang tidak ingin memiliki anak dalam hidup mereka, bahkan saat mereka sudah menikah. Saya termasuk orang yang terbuka dan saat beberapa orang tersebut bercerita tidak ingin memiliki anak kepada saya, saya sih bisa terima. Tapi mungkin untuk sebagian orang lainnya mungkin akan berpikiran negatif, apalagi bagi orang timur yang sebagian besar tujuan mereka untuk menikah adalah untuk memiliki keturunan. Sedangkan untuk orang2 dari negara barat banyak yang menikah bukan karena untuk memiliki keturunan saja, tapi berbagi hidup dengan pasangan, berbagi kasih sayang, saling menghargai & menghormati tanpa harus ada kehadiran anak. Coba saja kalau di Indonesia kan pasti setelah sepasang kekasih menikah pasti pertemuan berikutnya mereka akan dibombardir pertanyaan "sudah isi belum?" "kapan nih punya momongan?", kalau di negara2 barat hal tersebut adalah hal yang tidak sopan untuk ditanyakan karena bersifat sangat pribadi. Mereka bisa saja loh marah karena pertanyaan tersebut.

ooppsss..  :p  gini nih klo jahilnya keluar... hehehe..
Seperti di Jepang, banyak wanita karir yang tinggal di kota2 metropolitan seperti Tokyo yang sepertinya mereka tidak antusias untuk memiliki anak. Bahkan mereka terkadang melihat seperti "jijik" kepada anak kecil. Padahal sebenarnya anak kecil tersebut tidak melakukan hal yang melewati batas. Mungkin hal ini tidak hanya terjadi pada diri saya, tapi saat saya sedang jalan2 dengan anak saya di kereta atau bis, lalu anak saya dipangku dan disebelah saya ada seorang wanita yang berdandan rapi dan terlihat "berkelas", wanita tersebut kadang terlihat tidak nyaman berada disamping saya. Apalagi saat misalnya anak saya menggoyang2kan kakinya, lantas wanita tersebut selalu terlihat membersihkan rok atau celananya, padahal terkena sepatu anak saya saja tidak. Kadang tidak hanya wanita, tapi ada juga pria yang berdandan rapi juga melakukan hal yang sama. Kalau saya lihat mereka itu tidak terlalu muda, saya rasa mereka usianya 30an. Kalau mereka takut kena ya pindah tempat duduk saja, masa kita yang membawa anak yang harus pindah? Lagipula yang namanya tempat duduk di kereta atau bis kan sebagian besar ditujukan bagi mereka yang hamil, membawa anak, lansia, memiliki keterbatasan dan sakit. Kalau mereka sehat2 saja, ya silahkan saja berdiri atau cari tempat duduk lain.

everything out so Mye can be in the box... :p
Lain hal jika saya berada di restoran. Anak saya yang berusia 1,5 tahun tentu saja sedang senang2nya gratak sana sini, dalam usia ini memang anak2 lagi "gak bisa diam". Saya suka membawakan brokoli rebus untuk anak saya dan saya suka membiarkan dia untuk mencoba makan sendiri dengan garpunya. Pastinya umur 1,5 tahun dia belum bisa benar2 menyuap sendiri makanannya tapi dia mencoba dengan bantuan kita tentunya. Untuk umur segini yang namanya makan rapi tidak belepotan sepertinya susah dan harusnya semua orang bisa memaklumi hal tersebut. Namun terkadang orang yang berada disamping kita itu melihat anak kita belepotan koq tidak suka ya? Lalu apakah dengan demikian mereka jadi tidak nafsu makan?

after eating cheese dessert... :)
Saat berjalan2 di mall kita juga sering menemukan balita2 yang lari sana sini, berteriak kencang, menangis kejer, ngamuk, dsb. Hal demikian memang suka kita temui dan mungkin anak kita juga melakukannya. Saya sendiri mungkin akan agak terganggu bila sedang berjalan2 dan anak saya sedang tidur lalu menemui seorang anak yang berteriak2 terus tanpa henti atau menangis kejer. Saya akan khawatir kalau anak saya terbangun, tapi mau bagaimana lagi, ya saya harus maklum, saya juga seorang ibu dan kalau saya berada dalam kondisi ibu si anak itu mungkin saya juga bingung. Maka itu saya memilih untuk berjalan ke arah lain menghindari suara berisik tersebut. Tidak susah kan? Tapi bagaimana kalau ada yang berteriak2 atau menangis kejer saat kita di dalam kereta atau bis? Kita kan gak bisa menghindar? Ya sudahlah, terima saja kondisi tersebut, tidak perlu marah kan? Kejadian seperti itu kan tidak kita temui setiap hari. Kita mencoba berempati saja kepada orang tua anak tersebut dan membayangkan kalau kita dalam kondisi mereka bagaimana. Kita sebagai orang yang sudah dewasa harusnya yang bisa memaklumi bukan kita lantas bergumam marah2 dan memasang muka tidak suka. 

Jika ada orang memutuskan untuk tidak memiliki keturunan, ya itu sih hak mereka, kita tidak berhak untuk menghakimi mereka karena itu pilihan hidup mereka. Tapi mereka juga harus bisa menghormati hak orang lain yang memutuskan untuk memiliki anak dan membesarkan anak mereka. Bagi yang tidak menyukai anak ya jangan lantas memberikan pandangan yang sinis kepada mereka yang punya anak. Jika tidak suka melihat mereka ya menghindar saja. Apakah dengan adanya orang2 yang tidak menyukai anak kecil lalu kita yang memiliki anak kecil harus mengurung diri di rumah saja dan tidak jalan2 hanya karena untuk menghindari masalah?? Apakah kita lantas harus "mengikat" anak kita dan membatasi kreativitas dan ekspresi mereka?? Mendidik anak memang bukan hal yang mudah, saya sendiri setiap hari harus belajar lagi, lagi dan lagi dalam mendidik anak, hingga detik ini pun saya masih merasa tidak punya ilmu apa2 dan nilai saya masih merah. Bagaimanapun juga saya terus mencoba supaya anak saya bisa berkelakuan baik saat berada di tempat umum agar tidak menggangu orang lain. Jika kita yang mempunyai anak bisa menjaga perasaan orang yang tidak memiliki anak, kenapa yang tidak memiliki anak tidak bisa melakukan hal yang sama??



2011/10/25

Percaya Mitos atau Pakai Logika?

Semua orang pasti tahu dan sudah biasa mendengar kata "pamali" yang ditujukan untuk hal2 berbau "tidak boleh dilakukan" karena cerita mitos tertentu. Kenapa ya banyak sekali mitos yang kita kenal? Mungkin sebut saja "anak gadis pamali duduk di pintu katanya susah jodoh" padahal mah kalau duduk di pintu kan memang menghalangi orang jalan. Atau ada mitos lain seperti "kalau lagi haid jangan keramas" tapi tidak jelas alasannya kenapa. Lalu untuk mitos2 tidak jelas ini kenapa harus diikuti atau dipercaya? Kalau dari segi logika, apa ya hubungannya tidak boleh keramas dengan haid? Kan keramas itu untuk menjaga kebersihan badan, koq dilarang2. 

Minggu lalu saya potong rambut sendiri, hal itu udah biasa saya lakukan sejak 2 tahun yang lalu karena saya pikir saya pakai jilbab, repot kalau harus ke salon, apalagi di rantau tidak ada salon khusus wanita dan satu lagi adalah biaya salon di Belanda maupun di Jepang ternyata mahal sekali, jadi selain untuk menghemat, saya pikir ini untuk "uji kebolehan" saya... hahahaha... Semakin kemari memang kemampuan potong rambut sendiri semakin lihai dan saya rasa siapapun bisa melakukannya juga. Lalu saya bercerita ke sepupu saya soal saya potong rambut sendiri, eh, dia bilang "emang gak papa? kan lagi hamil?". Lantas saya tanya "apa hubungannya hamil dengan potong rambut sendiri?". Dia jawab "ya cuma mitos aja sih, gak tau juga kenapa". Saya juga memotong rambut saya sendiri saat hamil yang pertama dan sepertinya tidak ada yang mengatakan apa2. 

Menurut saya saat ini hal2 demikian harus dipikir menggunakan logika, jangan asal ikut2an saja. Misalnya mitos "jangan membeli pakaian atau perlengkapan bayi sampai usia kandungan 7 bulan", waduh maaf saja, kalau mitos kaya gitu diikuti pas saya di Belanda ya gak mungkin, soalnya saat kita memasuki usia kandungan 7 bulan malah perlengkapan bayi harus sudah lengkap semua dan akan diperiksa oleh bidan apakah sudah lengkap, sudah benar/sesuai. Kalau tidak sesuai ya harus diganti/ditukar atau kalau ada yang kurang harus ditambah. Jadi saya sudah mulai belanja sejak usia kandungan 4 atau 5 bulan. Kalau dipikir2 ada benarnya juga semua harus sudah tersedia saat usia kandungan 7 bulan, karena mungkin mereka mencegah kalau2 bayi kita lahir prematur 7 bulan maka semua perlengkapan sudah siap. Coba kalau misalnya melahirkan prematur lalu belum ada persiapan apa2, apa gak bingung tuh? Mungkin kalau di Indonesia kita masih ada orang tua atau saudara yang bisa belikan semua, tapi kalau di rantau saat kita jauh dari orang tua dan sanak saudara bagaimana? Masa minta tolong teman? Belum tentu kan teman kita mengerti apa yang harus dibeli. Lalu menurut saya belanja saat perut sudah besar adalah hal yang kurang nyaman. Kita sering cepat capek, dengan perut semakin besar juga kita cenderung beser ke toilet melulu, kalau belanja berdesak2an juga tidak nyaman karena kita akan bersenggolan dengan orang lain, apalagi kalau yang kena senggol perut, kan gak enak. 

Tapi satu mitos yang saya ikutin saat hamil adalah "tidak gembar-gembor kepada orang banyak soal kehamilan sampai usia kehamilan diatas 12 minggu (3 bulan)". Menurut saya mitos itu benar dan kalau dipikir dengan logika usia kehamilan 0-3 bulan adalah usia kehamilan yang cukup rentan bagi beberapa wanita dan bisa mengalami keguguran. Jadi misalnya kita sudah gembar-gembor bilang hamil dari usia misalnya 5 atau 6 minggu lalu mengalami keguguran (amit2 jabang bayi..), nanti kita sendiri yang pastinya sakit hati, sedih dan capek harus menjelaskan ke orang2 kalau kita keguguran. Ujung2nya mungkin kita segan bertemu dengan teman2 atau keluarga karena takut ditanyakan soal kehamilan kita. Namun demikian, saya lihat fenomena mitos ini sudah dihilangkan oleh beberapa teman2 atau saudara2 saya. Jangankan saat benar2 sudah hamil (sudah dinyatakan dokter benar hamil), baru telat haid saja dan belum periksa ke dokter kandungan atau baru test pack saja sudah bercerita. Mungkin saking senangnya jadi tidak bisa menahan diri. Saat orang dilanda kebahagiaan yang sangat amat, logika memang akhirnya suka kalah ya... hehehe... Menurut saya sih, ini sih cuma pendapat saya aja loh (nanti banyak yang protes lagi.. hehehe...) kalau hamil belum 12 minggu mungkin sebaiknya kita hanya sharing dengan orang tua, saudara dekat (saudara kandung) dan sahabat terdekat saja, tapi tidak perlu bikin pengumuman dimana2.

Satu mitos besar lainnya yang cukup bikin heboh di keluarga saya adalah "laki2 sunda tidak boleh menikah dengan perempuan jawa". Katanya istilahnya itu sang laki2 bisa "kalah", mungkin dalam karir, dalam memimpin rumah tangga, dsb. Cerita mitos itu sebenarnya berawal dari masalah "harga diri" dimana pihak Jawa merasa dirinya lebih terhormat dari Sunda karena kerajaan Jawa lebih tua daripada kerajaan Sunda. Alasan kedua adalah karena terjadinya perang Bubat (1279 M) antara Kerajaan Jawa dengan Kerajaan Sunda dan pihak Sunda merasa harga dirinya dihina karena dalam perang tersebut putra-putri dari kerajaan Galuh dibantai oleh kerajaan Majapahit. Hadeehh.. yang kaya gini udah beratus2 tahun yang lalu masih aja dipercaya ya? Kan katanya Bhineka Tunggal Ika, jadi harusnya yang membawa2 nama suku atau adat tertentu dihilangkan donk ya? Hehehe... Saya rasa, kalaupun terjadi hal2 yang negatif dengan pasangan laki2 sunda dengan istri jawa, kayanya hanya kebetulan saja, tidak semua pasangan mengalami hal tidak baik, malah ada saja tuh yang langgeng, sejahtera & baik2 saja. Rumah tangga kan dibangun atas dasar rasa setia, saling menghargai, kasih sayang, dan elemen2 pendukung lainnya tapi bukan berdasarkan mitos.

Kalau dipikir2 di Indonesia banyak sekali ya mitos2. Mungkin bahkan masih banyak mitos yang belum saya tahu. Tapi kalau kita selalu mengaitkan semua hal dengan mitos dan tidak menggunakan logika kapan kita majunya donk ya? Hehehe...



2011/09/27

Musim Gugur & Dingin Saatnya Buah Kaki (Persimmon)

Akhirnya musim panas berakhir juga di Jepang, sekarang udara sudah mulai dingin. Kalau saya sih suka sekali udara seperti ini, suhu antara 24 derajat C. - 15 derajat C adalah yang ternyaman buat saya. Berharap kalau cuaca tidak tambah dingin ataupun panas.. tapi sepertinya gak mungkin banget ya... hehehe... Awal musim gugur di Jepang, salah satunya, ditandai dengan munculnya buah Kaki. Lucu ya namanya, Kaki... hehehe... Kalau bahasa Inggrisnya yang keren sih Persimmon. Warnanya antara oranye muda hingga oranye tua. Diawal2 musim gugur biasanya berwarna oranye muda tapi seiring waktu berjalan lama2 yang muncul di supermarket menjadi oranye tua, seperti oranye-nya Belanda. Cantik sekali dari segi warna maupun bentuk. 

Kalau saat di Belanda mungkin buah ini muncul sekitar November - Desember, tapi kalau di Jepang munculnya sejak akhir September hingga Desember. Pada awal2 September saya sudah bisa lihat di ladang petani lokal yang sering saya lewati kalau mau ke supermarket, buah kaki sudah mulai besar2, tapi warnanya masih hijau atau kuning. Sampai saat ini sih di ladang petani lokal yang sering saya lewati buah kaki-nya belum pada matang, tapi ternyata petani2 lain sudah mulai panen buah kaki dan mulai di jual di supermarket ataupun supermarket khusus petani lokal. Tapi kalau sudah Desember, pohon buah kaki sudah pada gundul. Kalau di Belanda buah kaki biasanya banyak di jumpai di open market setiap hari sabtu pagi, atau ada juga di supermarket2 biasa. 

hachiya persimmon
Rasa buah kaki ternyata bervariasi berdasarkan lokasi. Kalau di Belanda, buah kaki yang masih keras (untuk sebagian menyebutnya belum matang) rasanya agak asam-pahit & kesat. Jenis yang dijual di Belanda memang berbeda dengan yang di Jepang. Di Belanda yang umum ditemukan adalah yang jenis "hachiya", berbentuk oval atau heart shape. Rasa pahit & kesat tersebut adalah karena buah kaki jenis hachiya memiliki zat tannin yang menyebabkan rasa kering (kesat) pada mulut. Zat tannin akan berkurang jika buah semakin matang, maka itu kalau saya beli buah kaki yang masih keras biasanya saya membiarkan si buah kaki hingga matang/empuk. 



fuyu persimmon
Berbeda dengan di Jepang, buah kaki yang umum ditemukan adalah yang berjenis "fuyu" dimana bentuknya itu lebih "gembung" dan cenderung kotak. Aneh ya, padahal gak pada di cetakin loh buahnya. Gak mungkin juga di cetakin satu2, wong pohonnya itu seperti pohon jeruk atau apel dimana buahnya bisa banyak banget, harus punya cetakan berapa banyak ya?? Hahaha... Persimmon jenis fuyu ini yang keras saja rasanya sudah maniiiiss sekali, tanpa ada rasa kesatnya. 



Mungkin sebagai gambaran perbandingan rasa & bentuk dengan buah yang ada di Indonesia, dalamnya buah kaki itu berserat seperti sawo, bijinya juga seperti sawo dan rasanya mirip2 antara sawo dengan tomat segar. Kalau yang masih keras bisa krenyes2 seperti kalau kita makan apel. Katanya sih kalau biji buah kaki kita tanam bisa tumbuh dan berbuah. Hmmm.. kira2 kalau saya tanam di halaman rumah orang tua saya atau mertua saya bisa tumbuh gak ya? :D

bagian dalam buah persimmon

Kalau soal harga... wuiiihhh bisa beda jauuuhhh di Belanda dengan di Jepang. Di Belanda untuk buah kaki yang sudah pada matang, hampir busuk 1 euro bisa dapat 15 biji saja (mungkin kira2 1 kg). Tapi biasanya sih yang masih keras agak lebih mahal dari itu. Sedangkan di Jepang, satu biji buah kaki saja bisa dihargai 100 - 150 yen!!! Alias 1 euro 1 biji!!!! Tapi mungkin bisa dimaklumi karena Japanese Persimmon adalah yang paling enak dan manis, pokoknya kualitasnya emang super, jadi ya pantas saja kalau mahal. Ya seperti saya bilang tadi, yang masih keras saja sudah manis, dibandingkan dengan yang di Belanda yang keras itu asam dan kesat. Penasaran mencoba? Yuukkk main2 ke Jepang atau Belanda saat musim gugur... :D