2011/04/22

The Big Earthquake & Tsunami

Semua orang pasti udah denger dan tau soal gempa besar & tsunami yang melanda Jepang pada tanggal 11 Maret 2011. Pasti banyak juga yang melihat beritanya di TV, dengan gambar2 yang mengerikan & dahsyat. Di hari pas kejadian gempa, saya lagi berada dirumah bersama Mye, suami ya pasti lagi di kantor kerja. Tiba2 kerasa getaran gempa, tapi saya pikir, ah gempa biasa kali, soalnya ini bukan pertama kali saya ngalamin gempa di Atsugi. Tapi koq gempanya lama sekali dan makin lama getaran makin kencang. Tapi saat itu saya malah masih sempat nulis status di facebook saya bilang kalau ada gempa besar sekali, lama & bikin pusing. Karena gempanya makin kencang, akhirnya jadi takut sekali, saya melihat ke luar jendela apa ada orang2 yang keluar, tapi gak ada. Tapi akhirnya saya memutuskan untuk keluar rumah, walaupun katanya sih berdasarkan prosedur yang berlaku seharusnya kita stay di dalam rumah saja, tapi karena ada retakan di langit2 rumah saya, saya pikir daripada kenapa2 mending saya keluar. Saya keluar gendong Mye dan bawa paspor (untung surat2 penting selalu siap bawa). Pas keluar kebetulan manager apartemen lagi di luar juga. Lalu dia cuma bilang "ada gempa" ato mungkin sejenisnya, gak ngerti.. hehe... dan dia waktu itu juga santai aja dan hanya pegang batang pohon, sepertinya mau mengetahui seberapa besar gempanya. Pas saya diluar saya juga lihat sepertinya orang2 masih beraktivitas seperti biasa, ada ibu2 yang keluar rumah dengan anak2nya tapi itu juga untuk pergi menuju suatu tempat dan ada lagi yang pergi keluar untuk bermain di taman bermain dekat rumah. 

Setelah gempa reda, saya masuk lagi ke rumah dan memutuskan untuk pergi ke supermarket. Di jalan menuju supermarket, ternyata gempa masih berlanjut, kali ini para pekerja di bakery sebelah apartemen sampai keluar dari gedung. Saya lihat juga tiang2 listrik pada goyang, pohon2 pada goyang, tapi saya tetep jalan ke supermarket. Di dalam supermarket juga masih terasa gempa walaupun sudah tidak terlalu besar. Pas sampai dirumah lagi saya langsung ngecek facebook saya dan ternyata sudah banyak sekali teman2 & saudara2 yang menanyakan keadaan kita di Atsugi. Mereka takut kita terkena tsunami. Alhamdulillah kita tinggal di daerah bukit dan jauh dari pantai, jadi tsunami sih Insya Allah gak kena, tapi kalau gempa memang kita sih udah sering alami gempa. Ini gempa ke 4 yang saya alami selama di Atsugi, tapi ini adalah yang terbesar yang saya alami selama hidup saya. Setelah teman2 banyak menanyakan keadaan kita & heboh dengan gempa & tsunami yang sangat besar itu akhirnya saat itu baru saya nonton tv untuk melihat berita. Ternyata benar gempa dengan magnitud 9 skala richter melanda utara perfektur Miyagi dengan pusat gempa di semenanjung Oshika, pantai timur Tohoku. Semua channel tv fokus hanya menayangkan berita tentang gempa & tsunami. Mereka juga selalu menayangkan peta seluruh Jepang dengan tanda2 tsunami warning di hampir seluruh pesisir pantai Jepang. Gempa2 susulan juga banyak sekali, kadang kecil kadang besar dengan pusat gempa di daerah sekitar perfektur Miyagi, Ibaraki dan Fukushima. 

Ternyata bencana gak cuma gempa dan tsunami aja, tapi juga meledaknya reaktor nuklir di Fukushima. Akhirnya fokus berita lebih ke arah reaktor nuklir yang meledak. Meskipun, tsunami warning masih tetap selalu ditayangkan di TV. Setiap kali ada gempa susulan selalu ada bunyi "ding ding ding" dari tv. HP kami juga selalu bunyi disaat ada gempa besar. HP kita di setting untuk memberikan warning di saat ada gempa. Bahkan pada jam 1 malam pun kalau ada gempa besar ya bunyi kencang. Selama seminggu setelah tsunami, kita gak bisa tidur tenang, karena alarm gempa suka bunyi dan gempa di malam hari juga sering kali kencang. Belum lagi harus selalu pantau berita soal penyebaran radiasi nuklir yang katanya semakin luas. Untung suami saya dulu pernah kerja di reaktor nuklir sewaktu PhD di Delft. Jadi dia ngerti apa yang terjadi dan bisa menghitung berapa radiasi yang keluar dan jarak aman radiasi. 

Akibat dari meledaknya reaktor nuklir di Fukushima adalah berkurangnya supply listrik, jadi pemerintah Jepang akhirnya memberlakukan pemadaman listrik bergilir. Untuk mengetahui daerah mana saja yang kena pemadaman, pada jam berapa dan kapan kita harus melihat tv atau melihat dari website. Tapi kita mana ngerti nonton tv, baca dari website juga bingung wong gak bisa baca kanji. Jadwal kerja suami juga jadi kacau karena adanya pemadaman listrik ini. Suami mendapat jadwal pemadaman listrik dari rekan kantornya tapi itu juga katanya jadwalnya masih blum jelas. Teman jepang saya yang waktu itu kenalan di kereta saat mau ke Odawara telepon saya dan kasih tau jadwal pemadaman. Tapi ternyata koq tidak ada pemadaman listrik sama sekali. Di hari2 berikutnya juga demikian, gak jelas jadwal pemadamannya. Sepertinya pemerintah Jepang juga takut untuk memadamkan listrik karena kalau tidak ada listrik lalu tiba2 ada gempa besar, masyarakat jadi tidak bisa di beri warning.

Selain heboh dengan pemadaman listrik bergilir, kita juga dihebohkan dengan tingkat radiasi nuklir yang semakin hari semakin tinggi di daerah2 dekat Tokyo. Atsugi itu berada kira2 350 km dari reaktor nuklir yang meledak, sebenarnya cukup jauh, kalaupun radiasi sampai di Atsugi mungkin dosisnya kecil. Walaupun gitu, kita kan mikirin Mye yang masih bayi. Dosis yang bisa diterima oleh bayi dengan orang dewasa kan beda. Hebohnya penyebaran radiasi membuat beberapa negara mengeluarkan pernyataan untuk warga2nya keluar dari Jepang sampai kondisi aman. Keluarga kita di Indonesia juga menyuruh kita untuk pulang saja ke Indonesia untuk sementara, tapi kita gak bisa keluar Jepang begitu saja karena suami harus mendapat izin dari bossnya dan sayangnya pemerintah Indonesia tidak mengeluarkan pernyataan untuk WNI di Jepang untuk mengevakuasi diri keluar dari Jepang. 

Kira2 seminggu setelah kejadian reaktor nuklir meledak, suami melihat kalau tidak ada kemajuan dalam penanganan reaktor nuklir tersebut, malah semakin hari koq kayanya tambah parah ajah. Suami juga mencari info dari berbagai sumber, sampai akhirnya menemukan artikel berita dari koran online Amerika bahwa kondisi radiasi hingga 300an km dari reaktor nuklir tidak aman dan dalam waktu 48 jam sebaiknya masyarakat yang ada di radius 300-350 km mengevakuasi diri. Saat itu juga akhirnya suami diskusi dengan teman yang orang Korea yang juga mempunyai 2 anak untuk keluar dari Atsugi. Pilihan kami waktu itu adalah pergi ke Kyoto atau Osaka. Teman suami saya malah sudah membeli tiket untuk istri dan anak2nya untuk kembali ke Korea karena teman2 Korea mereka yang berada di Atsugi sudah pada pergi dari Atsugi. Kita memutuskan untuk sesegera mungkin keluar dari Atsugi, jadi dalam 2 jam kita buru2 packing untuk paling tidak 1 minggu dan akhirnya kita pergi lah mengungsi sekaligus liburan (karena waktu itu kebetulan long weekend di Jepang) ke Kyoto untuk 4 hari. 

Pergi ke Kyoto selain untuk menghindari radiasi nuklir, juga untuk menenangkan diri dari gempa2 susulan yang sering sekali terjadi. Kita itu udah kaya parno banget karena perasaan tiap saat tanah itu bergetar. Setiap malam gak bisa tidur tenang karena waspada gempa. Sebelum memutuskan pergi ke Kyoto, saya bahkan udah sedia koper kecil berisi pakaian dan surat2 penting in case dalam keadaan gawat darurat kita harus kabur ya udah tinggal bawa koper kecil satu itu ajah. Belum pernah dalam hidup ngalamin keadaan kaya gini, tapi ya namanya hidup ada aja ya lika-likunya dan selalu ada pertama kali untuk segala hal.



No comments:

Post a Comment